Selasa, 01 Mei 2018

Kisah Nabi Shaleh A.S


Nabi Shaleh A.S


Shaleh diutus Allah untuk berdakwah dan menyerukan kebenaran kepada kaum Tsamud. Shaleh sendiri masih ada hubungan saudara dengan Tsamud, sama-sama keturunan Sam bin Nuh. Adapun silsilah Shaleh: Shaleh bin Abid bin Asif bin Masyih bin Abid bin Hadzir bin Tsamud bin Shaleh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Sedangkan silsilah Tsamud: Tsamud bin Ad bin Irmi bin Shaleh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh.

Jadi, Tsamud adalah keturunan Ad. Tsamud ini kemudian beranak pinak, bercucu banyak sehingga terbentuklah suatu kaum atau suku yang disebut kaum Tsamud. Sedangkan, Shaleh adalah anak dari Abid, keturunan Tsamud.

Kaum Tsamud menghuni daerah Hadramaut, yakni daratan antara Yaman dan Syam (Syria). Kaum Tsamud ini mempunyai ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan dalam bercocok tanam dan beternak. Dengan keahlian itu, mereka hidup makmur di Hadramaut. Semua itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada mereka.

Tidak hanya itu, mereka pun diberi kekuatan fisik yang tangguh. Mereka sanggup mengukir gunung-gunung untuk dijadikan pemandangan indah. Mereka membangun gedung-gedung tinggi. Mereka juga membuat rumah-rumah di tebing-tebing gunung yang dilubangi dan dipahat.

Namun, kaum Tsamud tidak mengenal tuhan. Berhala yang mereka buat sendirilah yang mereka jadikan tuhan. Hukum yang berlaku pun hukum rimba. Hukum yang bertentangan dengan kemanusiaan. Gaya hidup mereka menyimpang jauh dari kebenaran dan kemanusiaan. Orang-orang kaya hidup berfoya-foya, bermabuk-mabukan, berzina, dan lain-lain. Perampokan terjadi disana-sini. Penganiayaan dan perbuatan zalim dapat dijumpai setiap hari. Orang yang lemah menjadi budak dan diperlakukan tidak manusiawi.

Kemudian, Allah mengutus Shaleh kepada kaum Tsamud. Nabi Shaleh berkata, "Wahai Saudaraku, kaum Tsamud, kebiasaanmu menyembah berhala itu sangat keliru. Sesungguhnya, Tuhan yang wajib kalian sembah adalah Allah."

"Hai Shaleh! Siapakah Allah itu?" tanya salah seorang dari mereka.

"Dia adalah Tuhan sekalian manusia, sekalian makhluk. Dialah yang berkuasa atas segala-galanya. Dialah tempat meminta ampunan, tempat memohon pertolongan dari kesulitan," kata Nabi Shaleh menjelaskan.

"Coba tunjukkan dimana Tuhanmu itu. Bagaimana wujudnya, apakah sama dengan tuhan-tuhan kami?"

"Masya Allah, kalian sungguh keterlaluan. Kalian tidak akan mampu melihat wujud Allah," jawab Nabi Shaleh.

"Pembual! Omong kosong kau, hai Shaleh. Aku tidak memercayai omonganmu sedikit pun sebelum kau menunjukkan bukti, mukjizatmu kepada kami. Tunjukkanlah bukti-bukti kehebatanmu sebagai nabi utusan Tuhanmu itu! Baru kami akan memercayai dan mengikutimu!" kata orang-orang Tsamud. Dialog ini diterangkan di dalam Al Quran Surah Huud (11):61-62.

Kaum Tsamud tidak menghiraukan perkataan Nabi Shaleh. Mereka bahkan menganggap Nabi Shaleh gila, terkena sihir atau kerasukan setan sehingga omongannya ngawur. Mereka hanya akan percaya bila Nabi Shaleh bisa menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Maka, Nabi Shaleh pun memohon kepada Allah untuk memberikan mukjizat.

Saat itu pula Allah memerintahkan Nabi Shaleh untuk memukulkan tangannya ke atas permukaan batu yang ada di depannya. Setelah Nabi Shaleh melakukannya, muncullah unta yang gemuk, besar, dan bagus. Tentu saja, kandungan susunya banyak. Orang-orang Tsamud terperanjat semuanya. Saking herannya, mereka bergumam bagaikan suara lebah.

Nabi Shaleh lalu berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, inilah tanda bahwa aku adalah Nabi pesuruh Allah. Sembahlah Allah, dan tinggalkanlah berhala-berhala itu. Kalian jangan mengganggu unta ajaib ini. Binatang ini perlu minum sebagaimana kalian minum. Jika kalian menginginkan susunya, silakan memerahnya!" kata Nabi Shaleh menerangkan. Kisah tentang unta ajaib ini ada di dalam Al Quran Surah Asy-Syu'araa' 26:155-159.

Sejak awal, Nabi Shaleh telah memperingatkan kaum Tsamud. Mereka dilarang mengganggu unta itu, apalagi membunuhnya. Sebab, unta itu bukan sembarang unta, melainkan mukjizat dari Allah. Jika sampai ada yang membunuhnya, dikhawatirkan Allah akan murka.

Sejak itulah, sang unta berkeliaran. Ia berpindah-pindah tempat kemana pun ia suka. Setiap hari, orang-orang antre untuk mendapatkan susunya. Anehnya, susu itu keluar terus walaupun banyak orang yang memerahnya.

Pembunuhan Unta


Dengan hadirnya unta itu, sebagian dari mereka merasa senang. Hal ini karena mereka bisa mendapatkan susu setiap hari. Namun demikian, diam-diam ternyata ada beberapa orang yang sangat tidak menyukai kehadiran unta ajaib itu. Mereka adalah orang-orang yang sudah sejak lama tidak menyukai Nabi Shaleh.

Pada suatu malam, mereka berunding untuk membunuh unta tersebut. Mereka khawatir jika unta itu dibiarkan terus hidup, akan semakin banyak orang yang beriman dan mengikuti nabi Shaleh. Akhirnya, para pemimpin orang-orang kafir sepakat untuk melenyapkan unta Nabi Shaleh. Kemudian, mereka menunjuk seorang pemuda berbadan kekar untuk melaksanakan tugas itu.

Keesokan harinya, tatkala matahari muncul di ufuk timur, orang-orang berbondong-bondong mengambil air di telaga sebagaimana biasanya. Setelah itu, para penduduk menyambut kedatangan unta. Lalu, mereka memerah susunya secara bergiliran. Orang-orang kafir yang fanatik kepada berhalanya semakin panas hati. Diam-diam, seorang pemuda kafir sedang menanti saat yang tepat untuk membunuh unta itu. Ketika orang-orang sudah meninggalkan unta itu, si pemuda pun membunuhnya.

Setelah mengetahui untanya disembelih, Nabi Shaleh marah bukan main. Ia segera menuju telaga. Sesampainya disana, Nabi Shaleh berkata, "Wahai kaumku! Siapakah yang berani-beraninya membunuh unta ajaib itu?"

Pemuda yang membunuh unta itu berkata, "Akibat untamu itu, telaga menjadi kotor. Orang-orang tergila-gila pada air susunya. Kamilah yang membinasakannya."

"Apakah engkau tidak ingat? Aku telah memperingatkan, jangan sekali-kali kalian mengganggu unta itu. Apalagi sampai membunuhnya. Bila kalian melakukannya, berarti kalian siap menerima azab dari Allah," kata Nabi Shaleh.

"Mana mungkin Tuhanmu bisa mengirim azab. Buktikan! Kami ingin tahu dan merasakan!" tantang mereka.

Kehancuran Kaum Tsamud


Setelah tantangan kaum Tsamud itu, Nabi Shaleh memberi tahu bahwa azab akan datang tiga hari lagi. Hal ini dijelaskan Allah dalam Surah Huud (11):65, "Mereka membunuh unta itu. Maka berkatalah Nabi Shaleh, "Bersukarialah kamu sekalian di rumah selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan."

Pada hari pertama setelah pembunuhan unta, masih terasa biasa-biasa saja. Hari kedua pun sama. Akhirnya, pada hari ketiga, janji Allah datang. Langit menjadi gelap. Orang-orang mulai panik. Sementara Nabi Shaleh dan pengikutnya, orang-orang beriman sudah pergi menyelamatkan diri. Petir pun menyambar orang-orang kafir.

Al Quran mengatakan, "Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhanny, lalu mereka di sambar petir sedang mereka melihatnya." (QS. Adz-Dzaariyaat (51):44).

Mereka juga diguncang gempa. Mereka pun mati di dalam rumah mereka. Allah berfirman, "Karena itu mereka ditimpa gempa. Karena itu, jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." (QS. Al-A'raaf[7]:78).

Kisah Nabi Huud A.S


Nabi Huud A.S


Nabi Nuh dan kaumnya yang berada di dalam kapal selamat dari azab banjir. Mereka keluar dari kapal dan melanjutkan kehidupan mereka. Di antara mereka terdapat kaum ‘Ad yang nasabnya berasal dari Sam bin Nuh.

Mereka melakukan perjalanan hingga sampai di daerah bernama Al-Ahqaf, yaitu antara Umman dan Hadramaut di Yaman. Di Al-Ahqaf, kaum ‘Ad membangun kebudayaannya. Mereka membangun bangunan-bangunan tinggir di Iram (ibu kota kaum ‘Ad).

Pada masa itu, belum pernah ada kota yang dibangun seperti itu di negeri-negeri lain. Kaum ‘Ad membuat bangunan-bangunan itu dengan tiang-tiang penyangga yang besar dan kuat. Wilayah Al-Ahqaf merupakan daerah yang subur. Kaum ‘Ad memanfaatkannya untuk daerah pertanian. Curah hujan di wilayah ini cukup tinggi shingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Kaum ‘Ad hidup dengan penuh kemakmuran dan kemewahan. Hal itu membuat kaum ‘Ad menjadi angkuh. Mereka berkata, “Siapakah yang kekuataannya lebih besar dari kami ?”. setan telah berhasil menyesatkan mereka. Kaum ‘Ad mulai menyembah patung berhala. Mereka melupakan dahsyatnya banjir itu. Lama-kelamaan, mereka juga berbuat zalim dengan melakukan tindak kekerasan dan kejahatan. Dalam Al-Quran digambarkan kondisi kaum ‘Ad saat itu pada ayat 130 surat Asy-Syu’ara, “Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis”. Kaum ‘Ad benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka tidak lagi menyembah Allah SWT.

Nabi Hud Berdakwah Kepada Kaum ‘Ad


Karena kaum ‘Ad telah berada dalam kesesatan, Nabi Hud diutus oleh Allah untuk berdakwah. Ia mengajak kaum ‘Ad menyembah Allah SWT dan menghentikan kezaliman. Di hadapan kaum ‘Ad, Nabi Hud berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tdak bertakwa kepada-Nya ?” Kemudian, para pemuka kaum ‘Ad menjawab, “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. Meskipun dikatakan gila dan pendusta, Nabi Hud tetap berdakwah. Nabi Hud berkata, “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu”. (QS. Al-Araf : 67-68).

Kaum ‘Ad tetap menolak seruan Nabi Hud. Malahan, mereka menantang diturunkannya azab jika seruan Nabi Hud benar. Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami ? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. Kemakmuran dan kemewahan telah membuat kaum ‘Ad lupa diri. Mereka tidak mempedulikan utusan Allah, Nabi Hud. Hanya sedikit yang mengikuti ajaran Nabi Hud.

Perbincangan Nabi Hud Dengan Kaumnya


Salah satu cara berdakwah Nabi Hud adalah dengan berdialog. Ia berdialog dengan kaum ‘Ad tentang kenikmatan dari Allah. Nabi Hud mengatakan bahwa seharusnya kaum ‘Ad menerima ajarannya sebagai suatu peringatan dari Allah. Ia juga mengingatkan adanya kaum Nabi Nuh. Mereka ditimpa azab karena tidak mempedulikan peringatan dari Allah. Nabi Hud berkata, “Allah telah memberikan kelebihan, kekuasaan, dan kekuatan kepada kalian. Allah memberikan semua itu agar kamu beriman dan bersyukur”. Kebimbangan meliputi perasaan kaum ‘Ad. Mereka merasa ada kebenaran dalam dakwah Nabi Hud. Namun, mereka tidak dapat meninggalkan penyembahan berhala. Kemudian, mereka berkata, “Wahai Hud ! Kami tahu tuhan kami telah menimpakan penyakit gila kepadamu. Sesungguhnya engkau adalah seorang pendusta”. Nabi Hud menyangkal perkataan kaum ‘Ad, “Wahai kaumku ! Aku bukanlah orang gila. Aku adalah Rasul Allah, Tuhan seluruh alam. Aku menyampaikan amanat Tuhanku”.

Nabi Hud berkata, “Apakah kamu tidak (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk member peringatan kepadamu ? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. Mereka (kaum ‘Ad) berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami ? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar” (QS. Al-Araf : 69-70). Demikianlah sebagian perbincangan Nabi Hud dan kaum ‘Ad. Kaum ‘Ad tetap menolak ajakan Nabi Hud sekalipun Nabi Hud memberikan penjelasan tentang bukti-bukti kekuasaan Allah SWT.

Azab Untuk Kaum ‘Ad


Nabi Hud telah lama berdakwah kepada kaum ‘Ad. Namun, kaum ‘Ad tetap berpegang teguh pada agama nenek moyang. Mereka menyembah tuhan-tuhan berhala. Kemudia, Allah SWT menurunkan azab. Kemarau yang panjang menimpa wilayah mereka. Tanah kembali kering dan tanaman tidak tumbuh. Hewan ternak mereka juga banyak yang mati. Kehidupan kaum ‘Ad menjadi sulit. Ketika itu, Nabi Hud meminta kaum ‘Ad untuk memohon ampun kepada Allah. Namun, mereka menolaknya dan tetap menyembah berhala. Mereka berharap tuhan-tuhan berhala akan menolong mereka. Sekali lagi, Allah menurunkan azab. Awalnya, kaum ‘Ad melihat sesuatu yang bergumpal-gumpal berwarna hitam. Mereka mengira telah melihat awan hitam yang akan menurunkan hujan. Mereka bersorak karena terlalu senang. Nabi Hud mengetahui bahwa azab segera datang. Oleh karena itu, ia mengumpulkan pengikutnya.

Setelah gumpalan mendekat, kaum ‘Ad yang kafir menyadari bahwa itu bukanlah awan. Dengan tiba-tiba, angin kencang menggulung kaum ‘Ad. Mereka terlempar ke udara hingga seluruhnya binasa. Hanya Nabi Hud dan pengikutnya yang selamat. Kisah tentang azab untuk kaum ‘Ad dikisahkan dalam beberapa surat. “Dan juga pada (kisah) ‘Ad ketika kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk” (QS. Adz-Dzaariyat : 41-42). “Sesungguhnya kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pohon kurma yang tumbang” (QS. Al-Qamar : 19-20). “Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan haru terus menerus, maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka” (QS. Al-Haaqqah : 6-8).