Sabtu, 14 Februari 2015

PEMBANGUNAN TEMPAT WUDHUK



Tempat berwudhuk atau yang biasa di ketahui masyarakat tempat mengambil air sembahyang dan juga sekaligus tempat buang air kecil, Bangunan tersebut di pusatkan di samping kanan Mesjid yang letaknya di dalam kompleks santriwan, sedangkan tempat berwudhuk bagi santriwati sudah di bangun sesuai ukuran dibutuhkan, Bangunan tempat berwudhuk dan Toilet yang sedang dibangun berukurang 9 X 15 dengan jumlah 2 Kulah bak penampungan air tempat berwudhuk, dan 6 ruang toilet.


Tempat berwudhuk ini akan di gunakan untuk Santri dan juga masyarakat sekitar yang Shalat Jum'at di Dayah. Mengingat kondisi tempat ambil wudhuk yang dulu merasa tidak layak lagi karena selalu berdesakan ketika hati Jumat tiba maka sepakat dengan hasil musyawarah Pimpinan, Pengurus, Dewan Guru, Keuchik, Tokoh Gampong, dan Panitia Mesjid untuk memperluas tempat berwudhuk.
Dana yang terkumpul pada awal pembangunan tempat tersebut murni hanya sumbangan masyarakat Gampong Neuheun Kecamatan Batee Kabupaten Pidie, 


Pada tahap laporan pembangunan pertama sumbangan yang telah diterima Rp. 20.000.000-, dan pada tahap kedua juga dengan jumlah yang sama yaitu Rp. 20.000.000-, dengan jumlah dana Rp. 40.000.000-, ini sudah terkuras habis dan mencapai pembangunan tempat berwudhuk itu sekitar 60%.

Sekarang bangunan tersebut sudah di hentikan disebabkan dana yang sudah habis dan belum masuk dana yang lain. Oleh karena itu,  Membutuhkan dana secepatnya agar senantiasa selesai bangunan tersebut awal bulan April, agar tempat berwudhuk itu bisa dipergunakan oleh peserta Mushabaqah Tilawatil Quran MTQ Radar se-Aceh yang akan di selenggarakan pada bulan Mai mendatang.


Di samping Bangunan tersebut adalah bangunan Aula Dayah, Bangunan Aula juga belum selesai, ini juga disebabkan dana yang kosong. Pimpinan Dayah serta Pengurus ingin 2 bangunan tersebut selesai tepat waktu.

Kamis, 12 Februari 2015

AJANG PEMBUKTIAN SEORANG GURU DAYAH



Setiap Dayah selalu melahirkan seorang guru yang mapan dan mampu menguasai Ilmu bahkan berkewajiban untuk mampu melaksanakan tugas masyarakat, misalnya : Membaca Khutbah, Pidato Mayat, Taliqin Mayat, Shamadiyah, Safari Ramadhan, dan lain - lain.

Ketika seorang santri sudah menjadi seorang guru dan sudah pasti ia akan berpisah dengan dayah dan pulang ke Kampung Halamannya, jauh sangat berbeda ketika kita sudah kembali ke masyarakat, dimana selalu ada kegiatan sosial yang berbentuk Ukhrawiyah. Dalam hal ini seorang lulusan dayah yang berperan dan masyarakat pun tidak segan dalam meminta untuk didepan.

Katakanlah masalah yang paling kecil yaitu menjadi Imam ketika berjama'ah, masyarakat tidak mau tahu apakah kita mampu atau tidak, yang jelas menurut masyarakat kita sudah menimba Ilmu di dayah dan tentunya kita sudah mampu tentang itu.

Di Aceh sudah menjadi tradisi berpidato memberi sedikit pengalaman dan Ilmu untuk masyarakat ketika bulan Puasa tiba, yang disebut Safari Ramadhan di malam hari sesudah Shalat tarawih, inilah saatnya kita wajib mampu dan harus berani berdiri didepan bahkan yang mendengarkan ceramah adalah orangtua kita sendiri. Sungguh sangat memalukan andai kita benar - benar merasa takut dan bajunya basah dengan keringat di depan orangtua kita sendiri yang memang orangtua kita sudah mengantarkan ke dayah selama belasan tahun.

Tentunya kegiatan berpidato di Dayah dimasukkan dalam kurikulum, setiap malam jum'at di Dayah dilatih santri agar menjadi seorang mubalig yang mapan dan mempunyai bahan ilmu yang banyak. Misalnya di Dayah Fauzul Fata, bahkan Setiap guru dituntut harus mampu berpidato didepan umum.
Setiap guru baik itu guru senior maupun guru junior di bebankan untuk tampil pada malam acara Ceramah Maulid Nabi yang di persaksikan oleh ribuan masyarakat.

Semoga dengan kegiatan tersebut mampu seorang guru ketika berhadapan lansung dengan masyarakat Gampong. Di Dayah tempat ujian yang harus di lewati dan di Kampung tempat berbakti untuk masyarakat.

Semoga menjadi seorang guru yang teladan dan mempu menyampaikan Hukum Agama Allah dengan benar dan tepat. Aamiin ya rabb.