Senin, 14 Desember 2020

KETAMPANAN NABI MUHAMMAD MELEBIHI NABI YUSUF

FAUZUL FATA


KETAMPANAN BAGINDA NABI MUHAMMAD ﷺ

Di dalam Kitab Al-Mahabbah karya Imam Ghazali disebutkan bahwa Imam Muhammad bin Asy'ats berkata pada masa Nabi Yusuf 'Alaihissalam, penduduk Mesir pernah hidup selama empat bulan tanpa makanan.

Jika mereka lapar, mereka cukup memandang Nabi Yusuf 'Alaihissalam sehingga ketampanannya menjadikan mereka lupa akan rasa laparnya. Bahkan ada yang lebih dari itu.

Pernah terjadi di mana sekumpulan perempuan mengiris-ngiris jarinya tanpa terasa, karena takjub melihat ketampanan Nabi Yusuf 'Alaihissalam.

Di lain keterangan juga, Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam Kitabnya, Muhammad Insanul Kamil, mengatakan bahwa persentase ketampanan, keindahan dan keelokan yang ALLAH Ta'ala turunkan ke alam ini dibagi menjadi beberapa bagian, dengan rincian :

50% untuk Nabi Muhammad ﷺ,

25 % untuk Nabi Yusuf 'Alaihissalam, dan sisanya 25% lagi dibagikan kepada seluruh alam raya beserta isinya yang meliputi keindahan alam, keelokan hewan, ketampanan dan kecantikan manusia, dan lain sebagainya.

Baik Nabi Muhammad ﷺ maupun Nabi Yusuf 'Alaihissalam sama-sama tampan dan mempesona siapapun yang melihat, mereka juga sama-sama diberi 10 hijab dari cahaya guna menjaga penampilannya dari fitnah.

Hanya bedanya semua hijab Nabi Yusuf 'Alaihissalam telah dibuka semenjak di dunia,

sedangkan Nabi Muhammad ﷺ baru satu yang dibuka, sisanya akan dibuka dan ditampakkan kelak di surga. 



Karena jika semua hijab Nabi Muhammad dibuka semenjak di dunia, orang-orang akan tanpa sadar mengoyak-ngoyak jantungnya karena tak kuasa menahan takjub melihat ketampanan Nabi Muhammad yang Mulia.

اللهم صل على سيدنا و حبيبنا و شفيعنا و قرة أعيننا و مولانا محمد وعلى آله وصحبه وسلم..

اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى اله....


Sumber :

Kitab: Al-Mahabbah karya Imam Ghazali.

Kitab: Muhammad Insanul Kamil karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Sabtu, 12 Desember 2020

KISAH MANUSIA YANG DIKENAL OLEH PENDUDUK LANGIT


 

FAUZUL FATA - TAK DIKENAL OLEH PENDUDUK BUMI, TAPI DIKENAL OLEH PENDUDUK LANGIT

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.


Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.


Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.


Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.


Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Masya Alloh, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. 


Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" Tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari ibu yang akan membawa aku ke surga"


Masya Alloh, itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah Subhanahu Wa Ta'ala pun memberikan karunia nya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih di tengkuknya. 


Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? Itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasullullah Shallallohu 'Alaihi Wasallam untuk mengenali Uwais. 

Beliau berdua sengaja mencari Uwais disekitar Ka'bah karena Rasullullah Shallallohu 'Alaihi Wasallam berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat Makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. 


Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong untuk kamu berdua. "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)

@fauzul_fata


Jumat, 11 Desember 2020

50 PESAN LUQMAN AL-HAKIM


Luqman (Arab: ﻟﻘﻤﺎﻥ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ , Luqman al-Hakim , Luqman Ahli Hikmah ) adalah orang yang disebut dalam Al-Qur’an dalam surah Luqman [31]:12-19 yang terkenal karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya.

Ibnu Katsir berpendapat bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa’ bin Sadun. Sedangkan asal usul Luqman, sejumlah ulama berbeda pendapat.

Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah , dan ada yang berpendapat ia berasal dari Sudan . Ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim pada zaman nabi Daud .

Kisah Luqman al-Hakim


Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim telah memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang.

Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang berkata, “Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki.”

Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang tersebut maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu.

Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya. Kemudian orang-orang berkata lagi, “Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu.”

Karena ia tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, dan himar itu tidak dikendarai.”

Dalam perjalanan pulang, Luqman al-Hakim menasihati anaknya mengenai sikap manusia dan ucapan-ucapan mereka. Ia berkata,

“Sesungguhnya tidak ada seseorang pun yang lepas dari ucapannya. Maka orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan kecuali kepada Allah saja. Siapa pun yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya.”

Beliau pernah berpesan dan memberikan lebih dari 50 nasihat kepada anaknya. Di antaranya:

1. “Wahai anakku! Jangan engkau buang dunia ini ke bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka.”

2. “Wahai anakku! Tidak ada kebaikan bagimu untuk

mempelajari apa yang belum kamu tahu sedangkan kamu belum beramal dengan apa yang kamu tahu.”

3. “Wahai anakku! Ingatlah dua perkara iaitu Allah SWT dan mati, lupakan dua perkara lain iaitu kebaikanmu terhadap hak dirimu dan kebaikanmu terhadap orang lain.”

4. “Wahai anakku! Kehinaan dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT lebih mendekatkan diri daripada mulia dengan maksiat (perkara menyebabkan dosa) kepada-Nya. Janganlah anakku undurkan melakukan taubat , sebab kematian datangnya tiba-tiba, sedang malaikat maut tidak memberitahukannya terlebih dulu.”

5. “Wahai anakku! Sesungguhnya lama bersendirian itu dapat memahami untuk berfikir dan lama berfikir itu adalah petunjuk jalan ke syurga.”

6. “Wahai anak kesayanganku! Allah SWT

memerhatikan dirimu dalam kepekatan malam, semasa engkau bersolat atau tidur lena di belakang tabir di dalam istana. Dirikan solat dan jangan engkau berasa ragu untuk meninggalkan perkara makruh dan melempar jauh segala kejahatan dan kekejian.”

7. “Wahai anakku! Selalulah berharap kepada Allah SWT tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak menderhakai Allah SWT. Takutlah kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah SWT.”

8. “Wahai anak! janganlah engkau mempersekutukan Allah SWT (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.”

9. “Wahai anakku, Bersyukurlah kepada Tuhanmu kerana kurniaan-Nya. Orang yang mulia tidak mengingkari Penciptanya kecuali orang yang kufur.”

10. “Wahai anakku! Bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah seperti orang yang mencari kayu api, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mahu menambahkannya.”

11. “Wahai anakku! Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Jika engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama TAKWA , isinya ialah IMAN dan Layarnya adalah TAWAKKAL kepada Allah SWT.”

12. “Wahai anakku! Orang-orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat , maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah SWT. Orang yang insaf dan sedar setelah menerima nasihat orang lain, maka dia akan sentiasa menerima kemulian dari Allah SWT juga.”

13. “Wahai anakku! Jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya’ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.”

14. “Wahai anakku! Jangan engkau berjalan sombong

serta takbur , Allah SWT tidak meredai orang yang sombong dan takbur.”

15. “Wahai anakku! Selalulah baik tutur kata dan halus

budi bahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.”

16. “Wahai anakku! Bilamana engkau mahu mencari

kawan sejati, maka ujilah dia terlebih dahulu dengan berpura-pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha menginsafkan kamu, maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati-hatilah.”

17. “Wahai anakku! Apabila engkau berteman , tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.”

18. “Wahai anakku! Sesesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, sesiapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandungi racun dan sesiapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.”

19. “Wahai anakku! Bergaul rapatlah dengan orang yang alim lagi berilmu . Perhatikanlah kata nasihatnya kerana sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur lalu disirami air hujan.”

20. “Wahai anakku! Janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan hati, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, dan janganlah mensia-siakan hartamu.”

21. “Wahai anakku! Sekiranya kamu di dalam solat,

jagalah hatimu , sekiranya kamu makan, jagalah

kerongkongmu, sekiranya kamu berada di rumah orang lain, jagalah kedua matamu dan sekiranya kamu berada di kalangan manusia, jagalah lidahmu .”

22. “Wahai anakku! Usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, berusahalah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.”

23. “Wahai anakku! Berdiam diri itu adalah hikmah (perbuatan yang bijak) sedangkan amat sedikit orang yang melakukannya.”

24. “Wahai anakku! Janganlah engkau menghantarkan orang yang tidak cerdik sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik , sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.”

25. “Wahai anakku! Janganlah engkau bertemankan dengan orang yang bersifat talam dua muka , kelak akan membinasakan dirimu.”

26. “Wahai anakku! Sesungguhnya orang bertalam dua muka bukan seorang yang jujur di sisi Allah SWT.”

27. “Wahai anakku! Jauhilah bersifat dusta , sebab berbohong itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.”

28. “Wahai anakku! Sesiapa yang berbohong hilanglah air mukanya dan sesiapa yang buruk akhlaknya banyaklah dukacitanya.”

29. “Wahai anakku! Bersabarlah di atas apa yang menimpa dirimu kerana yang demikian itu menuntut kepastian kukuh daripadamu dalam setiap kejadian dan urusan.”

30. “Wahai anakku! Apabila engkau mempunyai dua pilihan di antara takziah orang mati atau hadir majlis perkahwinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkahwinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.”

31. “Wahai anakku! Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu adalah lebih baiknya bila makanan itu diberikan kepada anjing sahaja.”

32. “Wahai anakku! Janganlah engkau terus menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah terus memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.”

33. “Wahai anakku! Aku pernah makan makanan yang baik dan memeluk yang terbaik tetapi aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih lazat daripada kesihatan .”

34. “Wahai anakku! Seandainya perut dipenuhi makanan, akan tidurlah akal fikiran, tergendala segala hikmah dan lumpuhlah anggota badan untuk beribadat.”

35. “Wahai anakku! Apabila perutmu telah penuh sesak dengan makanan, maka akan tidurlah fikiranmu, menjadi lemah hikmahmu dan berhentilah (malas) seluruh anggota tubuhmu daripada beribadat kepada Allah SWT, dan hilanglah kebersihan hati (jiwa) dan kehalusan pengertian, yang dengan sebab keduanyalah dapat diperoleh lazatnya munajat dan berkesannya zikir pada jiwa.”

36. “Wahai anakku! Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulamak dengan cara meminta nasihat dari mereka.”

37. “Wahai anakku! Jangan engkau berlaku derhaka terhadap ibu dan ayahmu dengan apa jua sekalipun, melainkan apabila mereka menyuruhmu derhaka kepada Yang Maha Berkuasa.”

38. “Wahai anakku! Allah mewasiatkan dirimu; berbuat baiklah dengan ibu dan ayahmu. Justeru, jangan engkau mengherdik mereka dengan perkataan mahupun perbuatan dibenci.”

39. “Wahai anakku! Seandainya ibubapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang kamu lakukan, maka marahnya ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam-tanaman.”

40. “Wahai anakku! Orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah SWT, maka dia tawadduk kepada Allah SWT, dia akan lebih dekat kepada Allah SWT dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada Allah SWT.”

41. “Wahai anakku! Seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya kerana tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rosak akhlaknya akan sentiasa banyak mengelamunkan hal-hal yang tidak benar.”

42. “Wahai anakku! Andainya ada sebutir biji sawi terpendam di dalam batu, pasti ketahuan jua oleh Tuhanmu Yang Maha Melihat, Allah Amat Mengetahui segala sesuatu, zahir mahupun batin atau apa yang engkau sembunyikan di dalam dadamu.”

43. “Wahai anakku! Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.”

44. “Wahai anakku! Engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi daripada semua itu adalah bilamana engkau mempunyai jiran yang jahat .”

45. “Wahai anakku! Aku pernah memindahkan batu-bata dan memikul besi, tetapi aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih berat daripada hutang.”

46. “Wahai anakku! Jauhkan dirimu dari berhutang , kerana sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.”

47. “Wahai anakku! Apakah tidak engkau perhatikan, apa yang Allah bentangkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan di bumi daripada kebaikan yang amat banyak ?”

48. “Wahai anakku! Apa yang engkau menikmati di kehidupan ini lantaran kurniaan-Nya yang penuh keamanan, keimanan dan kebaikan yang melimpah ruah, di taman dunia yang subur mekar dengan bunga-bungaan serta tumbuhan yang berseri-seri.”

49. “Wahai anakku! Ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu.”

50. “Wahai anakku! Janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan oleh dunia saja kerana engkau diciptakan Allah SWT bukanlah untuk dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.”

Wallahu A'lam bisShawab

@fauzul_fata

Senin, 13 April 2020

KISAH ABU NAWAS

Abu Nawas dikenal sebagai seorang sufi. Yang berasal dari Persia lahir pada 750 M di kota Ahvad dan meninggal pada tahun 819 M di Negeri Bagdad. Ketika beranjak dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Selama di sana ia bergaul dengan orang-orang badui padang pasir sehingga lama kelamaan ia menjadi lancar berbahasa Arab dan dapat mengikuti kebiasaan orang-orang Arab layaknya seorang pribumi, setelah tinggal lama bersama orang-orang badui, Abu Nawas dan keluarga kemudian menetap di Bagdad hingga ia meninggal di sana.

Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan sebagai salah seorang penyair klasik terbesar sastra Arab. Salah satu yang diyakini sebagai syairnya yang sangat terkenal dan sering kita dengarkan adalah: “Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi.....dst.” Artinya: “Ya Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat masuk neraka jahim...dst.”

Menurut cerita, syair di atas merupakan ungkapan tobatnya kepada Allah SWT, karena ketika masa mudanya banyak yang menyebutkan jika Abu Nawas banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan kehidupan duniawi dan banyak melakukan hal-hal yang di luar pikiran dengan perilaku jenakanya. Ketika berpindah ke Bagdad, Abu Nawas dikenal dekat dengan khalifah Harun Al Rasyid, sehingga banyak cerita jenaka Abu Nawas yang berhubungan dengan Raja Harun Al Rasyid.

Kisah-kisah asli Abu Nawas berasal dari sebuah buku dongeng Alfu Lailatin Wa Lailah (Kisah Seribu Satu Malam). Dari kisah asli tersebut lahir kisah-kisah baru dengan cerita yang berbeda-beda pula, baik secara tertulis maupun yang pernah diceritakan secara lisan. 

Alkisah, pada suatu malam dalam tidurnya Baginda Raja Harun Al Rasyd bermimpi bertemu seorang lelaki tua, dalam mimpinya laki-laki itu tua berpesan kepadanya jika negeri yang dipimpinnya akan ditimpa musibah. Oleh sebab itu, agar dapat menghindari bencana itu ia harus mengusir seorang penduduk negerinya yang bernama Abu Nawas. Esoknya setelah ia terbangun baginda raja mulai gelisah hatinya mengingat mimpi yang dialami semalam, ia kemudian memerintahkan kepada pesuruhnya untuk menghadirkan Abu Nawas ke istana.

Tatkala Abu Nawas telah berada di istana, baginda kemudian berkata kepada Abu Nawas:

“Hai Abu Nawas, semalam aku bermimpi yang sangat aneh dan aku merasakan jika mimpi itu adalah suatu pertanda buruk bagi negeriku. Dalam mimpiku aku bertemu seorang laki-laki tua yang memakai pakaian serba putih. Ia mengatakan kepadaku jika negeri ini akan ditimpa bencana yang sangat besar . Agar itu tidak terjadi, ia berpesan agar aku mengusir seorang rakyatku dari negeri ini yang bernama Abu Nawas, dan ia juga mengatakan jika Abu Nawas itu ingin kembali  maka hendaklah dia tidak berpijak di atas bumi atau mengendarai tunggangan apapun, tapi jika ia tidak bisa melakukan seperti itu maka ia tidak boleh lagi kembali ke negeri ini. Oleh sebab mimpi itu maka aku yakin ada sebuah kesialan atas dirimu. Maka aku memutuskan untuk mengusirmu dari negeri ini,” kata baginda.

Dengan perasaan yang berkecamuk setelah mendengarkan perintah baginda raja atas pengusiran dirinya, Abu Nawas kemudian meninggalkan istana dan kembali ke rumah. Ia menceritakan kepada istrinya tentang apa yang telah dititahkan raja kepadanya, Istrinya merasa sangat sedih. Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan keluarganya dengan bekal yang dibawa seadanya. Ketika dalam perjalanan ia terus memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk, iapun terus memutar otaknya agar dapat keluar dari masalah itu.

Abu Nawas terus berjalan tanpa tujuan yang pasti hingga ia berada disebuah negeri. Selama beberapa hari disana ia terus berpikir bagaimana cara ia kembali ke Negeri Bagdad tanpa melanggar apa yang telah dipesankan raja kepadanya, yaitu tidak boleh menginjak bumi dan tidak pula mengendarai tunggangan apapun.

Bukan Abu Nawas namanya jika ia memiliki keputus asaan. Abu Nawas tidak berputus asa atas apa yang telah menimpanya. Meskipun alasan yang membuat ia diusir sama sekali tidak masuk akal, ia menerimanya dengan ikhlas, selalu berdoa kepada Allah dan berpikir untuk bisa keluar dari setiap masalah yang menimpanya.

Tibalah pada suatu hari ia merasa rindu berat kepada keluarganya di Negeri Bagdad. Namun ia belum menemukan cara untuk kembali, hingga pada suatu hari lain tiba-tiba dia menemukan sebuah cara yang sangat masuk akal dan tidak membuatnya melanggar perintah raja.  Setelah ia menemukan cara tersebut, Abu Nawas segera mempersiapkan segala sesuatu dan bersiap-siap untuk kembali ke kampung halamannya.

Kabar kembalinya Abu Nawas mulai tersebar dalam negeri hingga ke telinga baginda. rakyat menyambut gembira kepulangan Abu Nawas karena kecintaan akan dirinya,  Baginda raja juga ikut senang, tapi dalam suasana yang berbeda. Jika rakyat senang karena mereka menyukai Abu Nawas, baginda raja senang karena kali ini ia dapat leluasa memberi hukuman kepada Abu Nawas, baginda  berpikir pasti mustahil Abu Nawas dapat kembali tanpa berpijak pada bumi atau menunggangi sesuatu.

Tibalah Abu Nawas di istana dan menghadap baginda raja. Kehadirannya di istana membuat baginda raja sangat kaget ketika melihat Abu Nawas bergelantungan mengikat dirinya di bawah seekor keledai, dan kemudian Abu Nawas berkata kepada baginda raja,

“Wahai Baginda Raja bukankah engkau telah mengusirku dari negeri ini, dan melarangku kembali dengan berjalan memijak bumi dan tidak pula boleh menunggang apapun. Maka oleh sebab itu aku telah kembali dengan tidak memijak pada bumi dan tidak pula menunggung apapun, kecuali aku bergelantungan di bawah perut keledai.”

Melihat tingkah polah dan alasan yang diberikan Abu Nawas, Baginda raja pun merasa masuk akal dan sangat memuaskan beliau. Akhirnya Abu Nawas bisa kembali ke keluarganya dan terbebas dari hukuman baginda raja.

Minggu, 12 April 2020

KISAH KAUM NABI LUHT


Kisah Nabi Luth Dan Kaum Sodom


Kisah Nabi Luth Dan Kaum Sodom ~ Nabi Luth adalah anak dari saudara Nabi Ibrahim. Ayah Nabi Luth yang bernama Hasan bin Tarikh adalah saudara kandung Nabi Ibrahim. Nabi Luth ikut serta bersama Nabi Ibrahim berhijrah ke Mesir. Di sana, Nabi Luth tinggal bersama Nabi Ibrahim. Mereka mengusahakan ternak dan tanaman.

Hewan ternak telah berkembang biak hingga memenuhi wilayah mereka. Begitu pun dengan hasil tanaman. Dari tahun ke tahun, panen mereka terus bertambah. Banyak kekayaan Nabi Ibrahim dan Nabi Luth menyebabkan penduduk di sekitarnya menjadi iri. Apalagi, mereka mengetahui bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Luthhanyalah pendatang. Akhirnya, Nabi Ibrahim dan Nabi Luth memutuskan untuk membagi dua seluruh kekayaan mereka. Nabi Ibrahim tetap tinggal di Mesir dan Nabi Luth pergi ke Yordania. Nabi Luth menetap di wilayah Sodom.

Kota Sodom merupakan salah satu kota di Yordania. Penduduk Kota Sodom memiliki akhlak yang sangat buruk. Mereka suka sekali berbuat kemaksiatan. Di daerah tu sering terjadi pencurian dan perampasan harta benda. Orang-orang yang lemah dan tidak berdaya sering menjadi korban dari orang-orang yang berkuasa. Salah satu yang sangat buruk dari kebiasaan penduduk Sodom adalah perbuatan homoseksual. Homoseksual adalah perbuatan menyalurkan nafsu antara laki-laki dan laki-lak atau antara perempuan dan perempuan. Perbuatan ini tidak pernah dilakukan oleh kaum sebelum mereka. Perbuatan itu merajalela di Kota Sodom. Seorang pendatang tidak akan selamat dari gangguan penduduk Sodom. Apabila pendatang itu adalah seorang perempuan, para wanita akan mengganggunya. Apabila pendatang itu adalah seorang lelaki tampan, para lelaki di Kota Sodom akan memperebutkannya. Demikianlah penduduk Kota Sodom memiliki akhlak yang sangat buruk. Pada masa kini, masyarakat akan berakhlak buruk jika menjauhi ajaran-ajaran dalam agama.

Nabi Luth Berdakwah Kepada Kaum Sodom


Allah swt memerintahkan Nabi Luth untuk mengembalikan kaum Sodom di jalan Allah. Nabi Luthdiminta mengajak kaum Sodom meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Nabi Luth memberi nasehat dan peringatan kepada kaumnya. Nabi Luthberkata, “Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu. Kalian adalah orang-orang yang melampaui batas”. Mereka menjawab, “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, kami akan benar-benar mengusirmu”. Luth berkata, “Sesungguhnya aku sangat benci pada perbuatanmu”.

Nabi Luth meminta kaumnya untuk bertaubat. Dia menceritakan azab Allah yang akan ditimpakan kepada mereka yang melakukan perbuatan keji. Mereka tidak mempedulikan seruan Nabi LuthNabi Luth terus berdakwah. Namun, kaum Sodom tidak menyambut seruannya. Nabi Luth merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk penduduk Sodom bersedia meninggalkan perbuatan kejinya. Nabi Luth memohon kepada Allah agar mendatangkan azab. Sungguh, azab Allah sangat menakutkan.

Tamu Nabi Luth


Allah mengabulkan doa Nabi Luth, Allah mengutus dua Malaikat dalam wujud dua pemuda yang sangat tampan. Sebelum sampai di wilayah Sodom, kedua Malaikat ini mengabarkan kelahiran Ishaq kepada Nabi Ibrahim dan isternya. Ketika sampai di Sodom, kedua lelaki tampan itu bertamu di rumah Nabi LuthNabi Luth berpesan kepada isteri dan putri-putrinya untuk merahasiakan kedatangan dua lelaki tampan tersebut. Namun, isteri Nabi Luth, yang sehaluan dengan penduduk Sodom, memberitahukan kepada para lelaki Sodom tentang dua lelaki tampan di rumah Nabi Luth. Tidak lama kemudian, para lelaki Sodom beramai-ramai mendatangi rumah Nabi Luth. Mereka berteriak memanggil Nabi Luth. Mereka meminta agar Nabi Luth melepaskan kedua tamunya untuk mereka. Nabi Luth tidak mau membuka pintu rumahnya.


<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-7166514464313376"

     crossorigin="anonymous"></script>

Nabi Luth menasehati kaum Sodom untuk kembali ke rumah masing-masing dan tidak mengganggu tamunya. Nabi Luth juga meminta kaum Sodom untuk meninggalkan perbuatan homoseksual karena hal itu bertentangan dengan fitrah manusia dan kodrat alam. Nabi Luth mengingatkan adanya azab yang dahsyat dari Allah swt. Kaum Sodom bukannya sadar, mereka justru hendak membuka pintu rumah Nabi LuthNabi Luthberkata, “Sesungguhnya aku tidak berdaya menahan orang-orang itu menyerbu ke dalam rumahku. Aku tidak memiliki senjata dan kekuatan fisik yang dapat menolak kekerasan mereka. Aku juga tidak mempunyai keluarga atau sanak saudara yang disegani mereka yang dapat aku minta pertolongan. Aku merasa sangat kecewa karena sebagai tuan rumah aku tidak dapat menjaga keamanan tamu di rumahku sendiri”. Mendengar keluh kesah Nabi Luth, kedua lelaki tampan itu memberi tahu yang sebenarnya. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah Malaikat yang diutus Allah swt untuk menurunkan azab kepada kaum Sodom. Dalam surat Ash-Shaaffaat ayat 171-172, Allah berfirman bahwa hamba-hamba-Nya yang Rasul pasti akan mendapat pertolongan. Pada akhirnya, para Rasul itu akan mendapatkan kemenangan.

Azab Untuk Kaum Sodom


Malaikat-Malaikat ini menyuruh Nabi Luth membuka pintu rumahnya seluas mungkin. Ketika pintu dibuka, kaum Sodom segera masuk ke dalam rumah Nabi Luth. Namun saat mereka hendak masuk, kaum Sodom tidak mampu melihat. Ternyata, mereka menjadi buta. Sementara itu, Nabi Luth dan keluarganya diminta untuk meninggalkan Kota Sodom. Mereka berjalan keluar Kota Sodom karena azab akan segera tiba. Para Malaikat berpesan kepada Nabi Luth dan keluarganya agar berjalan ke luar kota dan jangan seorang pun dari mereka menoleh ke belakang. Namun, isteri Nabi Luthyang berada di belakang rombongan Nabi Luth berjalan perlahan-lahan. Ia sering kali menoleh ke belakang karena ingin mengetahui apa yang akan menimpa atas kaum Sodom. Sepertinya, ia meragukan kebenaran ancaman para Malaikat yang telah didengarnya sendiri. Langkah Nabi Luth dan putrid-putrinya melewati batas Kota Sodom saat fajar menyingsing. Seketika bergetarlah bumi dengan dahsyatnya di bawah kaki kaum Sodom. Isteri Nabi Luth pun merasakannya. Gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu sijil menghancurkan Kota Sodom dan penduduknya. Dalam waktu singkat, mayat-mayat penduduk Kota Sodom bertebaran.

Ayat Al-Quran yang berkaitan dengan isteri Nabi Luthyang terkena azab Allah adalah ayat 11 Surat Hud. Ayat itu artinya, “Malaikat berkata, “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat ?” Kata tertinggal di sini terjemahan dari kalimat yaltafit. Ada pula mufassir yang menerjemahkannya dengan menoleh ke belakang. Kisah ini merupakan pelajaran bagi kaum-kaum sesudahnya. Perbuatan-perbuatan seperti itu sangat dilaknat oleh Allah. Sungguh,