Rabu, 25 Februari 2015

RAHASIA DIBALIK PERJALANAN NABI KHAIDIR






Assalamu'alaikum wr wb.

Nabi Khidir AS merupakan Hamba Allah SWT yang sangat khusus, karena beliau adalah salah satu hamba Allah yang ditunda kematiannya dan masih diberi rezeki. Selain itu beliau diutus untuk  memberi pelajaran Makrifat kepada Para Wali, para Sufi, maupun kepada orang  yang dengan tekun mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi Khidir AS mengajarkan ilmu tentang Makrifat, ada yang menyebutkan Nabi Khidir AS juga mengajarkan ilmu Laduni. Banyak orang yang ingin bertemu dengan Nabi Khidir AS, terutama para penganut Tarekat, ataupun mereka yang ingin berguru kepada Nabi Khidir AS. Kesalahan terbesar mereka adalah karena mereka ingin bertemu, seharusnya jangan punya keinginan untuk bertemu, ikhlaskanlah beliau yang menemui kita

Al-Khiḍr (Khaḍr, Khaḍer, al-Khaḍir) keterangan mengenai beliau terdapat dalam Al-Qur’an   Surah Al-Kahfi ayat 65-82.  dan beberapa hadist. “Mystical Dimensions of Islam”, oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidir dianggap sebagai salah satu Nabi dari empat Nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai “Sosok yang masih Hidup” atau “Abadi”. Tiga lainnya adalah Nabi Idris AS, Nabi Ilyas AS,  dan Nabi Isa AS. Nabi Khidir AS abadi karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Khidir merupakan sosok yang sangat misterius. Ia pun dikisahkan dalam sebuah perjalanan Musa yang penuh hal ajaib, luar biasa, dan tentunya penuh misteri. 

Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya, “Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu ?” ujarnya. Tersentak, Nabi Musa AS pun jelas menjawab, “Tidak”. Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan beragam mukjizat dari-Nya. Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu. Allah pun menegur dengan mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa. Ilmu itu tak dimiliki Musa sekalipun. Orang itu juga seorang Nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun ingin berguru pada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan menambah pengetahuannya.

Sesungguhnya teguran Allah Swt itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa AS untuk menemui hamba yang shaleh itu. Di samping itu, Nabi Musa AS juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut. Nabi Musa AS kemudian menunaikan perintah Allah SWT itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun. Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah SWT menghidupkan semula ikan yang telah mati itu. Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya’ tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Nabi Musa AS. Mereka kemudian meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya. Ibn Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.”.

Pejalanan melelahkan keduanya hingga mereka merasa lapar. Ketika Musa menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan. “Saat kita istirahat di batu tadi, sungguh aku benar-benar lupa mengabarkan tentang ikan itu. Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali setan. Ikan itu kembali ke laut dengan cara yang aneh sekali,” ujar Yusya. Musa pun langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda, “Itulah tempat yang kita cari,” ujar Musa bersemangat. Lupa sudah rasa lapar tadi, keduanya pun kembali ke arah semula tempat mereka beristirahat. Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahwa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Persia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

Ketika mereka telah Sampai pada tempat yang mereka tuju dan bertemu dengan sosok pria yang wajahnya tertutup sebagian oleh kudung. Sikapnya tegas menunjukkan kesalehannya. Pria itulah ialah Nabi Khidir AS. “Bolehkah aku mengikutimu agar kau bisa mengajarkanku sebagian ilmu di antara ilmu-ilmu yang kau miliki ?” ujar Nabi Musa AS kepada Khidir AS. Nabi Khidir AS menjawab,“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku”(Surah Al-Kahfi : 67). “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebagian dari pada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.” Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69). Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70). Nabi Musa AS mengikuti Nabi Khidir AS dan terjadilah peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahwa Nabi Musa AS tidak akan bertanya mengenai sesuatu tindakan  Nabi Khidir AS. Setiap tindakan Nabi Khidir AS itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa AS terperanjat.

Peristiwa ketika Nabi Khidir AS menghancurkan perahu yang mereka tumpangi. Nabi Musa AS bertanya kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir AS mengingatkan akan janji Nabi Musa AS, dan Nabi Musa AS meminta maaf karena lalai mengingkari janji  untuk tidak bertanya mengenai tindakan Nabi Khidir AS. Ketika  mereka tiba di suatu daratan, Nabi Khidir AS membunuh bocah yang sedang bermain dengan teman sebayanya. Dan lagi-lagi Nabi Musa AS bertanya kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir AS kembali mengingatkan janji Nabi Musa AS, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap yang dilakukan oleh Nabi Khidir AS, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa AS harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan lagi bersama Nabi Khidir AS. Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu Perkampungan. Sikap penduduk Kampung itu tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa AS merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir AS malah menyuruh Nabi Musa AS untuk  memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak . Nabi Musa AS tidak kuasa untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir AS ini. Akhirnya Nabi Khidir AS menegaskan pada Nabi Musa AS bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa AS untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa AS tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan  bersama dengan Nabi Khidir AS.

Nabi Khidir AS menguraikan  mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa AS bertanya. Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu. Dan adapun bocah itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak/bocah lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Itulah Kisah Nabi Khidir AS yang melakukan perjalanan bersama Nabi Musa AS dan semoga menjadi pembelajaran bagi kita. Amin !!! Wassalamu Alaikum wr wb.

MENGENANG SOSOK AL-HABIB AS-SAYYID MUHAMMAD BIN ALWY BIN ABBAS AL-MALIKY AL-HASANY



Al-Habib As-Sayyid Muhammad bin Alwy bin Abbas Al-Maliky Al-Hasany lahir di Makkah pada tahun 1365 H / 1947 H. Nasab beliau masih terkait dengan Imam Hasan, salah seorang cucu Rasulullah saw.

Ayah beliau Sayyid Alwy dikenal sebagai ulama terkenal yang mengajar di Masjidil Haram. Lingkungan telah membuat beliau sejak kecil lekat dengan ajaran-ajaran agama. Ayahnya sendiri yang mendidik dan mengasah beliau hingga menjadi seorang yang cerdas dan piawai dalam masalah-masalah keagamaan.

Tentang ayahnya ini, salah seorang ulama kesohor Mesir Syekh Muhammad Al-Thayyib An-Najjar menulis, "Sayyid Alwy Al-Maliky adalah seorang ulama besar yang mulia yang biasa mendermakan hidup demi ilmu. Ia dengan penuh ketekunan membaca berbagai kitab dan menulis berbagai buku seraya mengamalkan ilmu yang dikuasainya. Rumahnya terletak dekat Ka'bah yang mulia disekitar Makkah Al-Mukaramah. Ia bagaikan lembah indah yang menghimpun para ulama, pilihan diantara ulama islam yang mendengarkan Al-Qur'an dan Sunah Nabi saw, seraya mengkajinya dengan mendalam dan membahasnya secara teliti. Kepada para santri sering didengarkan berbagai sanjungan terhadap Nabi Muhamad saw, berupa syair yang dibacakan oleh Syekh Alwy dengan bahasa arab yang bagus disertai hati yang tulus penuh ketakwaan dan dihiasi keimanan yang jernih." 

Kecerdasan Sayyid Muhammad terlihat sejak kecil, Hafal Al-Qur'an pada usia 7 ( tujuh ) tahun, Hafal Al-Muwaththa' ( kitab Hadits karya Imam Maliki, kitab tertua, atau yang pertama diterbitkan di dunia islam pada abad ke 2 H / VII M ) pada usia 15 tahun. Dan pada usia 25 tahun, Sayyid Muhammad Al-Maliky meraih gelar doktor ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, dengan predikat excellent, dibawah bimbingan ulama besar mesir Prof.Dr. Muhammad Abu Zahrah. Usia 26 tahun beliau dikukuhkan sebagai guru besar ilmu hadits pada Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi.

Ini adalah sebuah prestasi luar biasa yang memang layak dicapai oleh seorang putra ulama besar dan termasyhur di Makkah dan Madinah. Sebagai ulama ahli tafsir dan hadits, beliau giat dalam kegiatan dakwah yang digelar Rabithah Alam Al-Islamy ( Liga Dunia Islam ) dan Mu'tamar Alam Islamy ( Organisasi Konferensi Islam ).

Pada tahun 1974, setahun setelah ayahnya wafat, Sayyid Muhammad Al-Maliky membuka pesantren yang di Utaibiyyah, Mekah. Uniknya, pesantren yang dibangun bersama Abbas, adik kandungnya itu, hanya menerima santri dari Indonesia. Belakangan pesantren itu pindah ke kawasan yang lebih luas tapi agak jauh dari Masjidil Haram. Di pinggiran selatan kota Makkah di daerah Rushayfah, yang kemudian diberi nama jalan Al-Maliky. Disana beliau banyak membina murid dari Indonesia. Sebagian dari ratusan alumnus yang pulang ke Indonesia, ada yang membuka pesantren dengan nama Al-Ma'had Al-Maliky ( Pesantren Al-Maliky ). 

Dalam kehidupannya, Sayyid Muhammad Al-Maliky pernah mengalami berbagai cobaan hidup. Pada tahun 1980-an terjadi perselisihan besar antara beliau dan beberapa ulama wahabi yang didukung oleh Kerajaan Saudi. Sayyid Muhammad Al-Maliky dituduh menyebarkan bid'ah dan khurafat. Beliau kemudian dikucilkan, hingga pernah mengungsi ke Madinah selama bulan Ramadhan. 

Persoalan itu kemudian meruncing, tetapi berhasil dicari jalan tengah dengan melakukan klarifikasi ( Dialog ). Waktu itu, Sayyid Muhammad Al-Maliky berargumen dengan kuat saat berhadapan dengan ulama yang juga mantan Hakim Agung Arab Saudi, Syekh Sulaiman Al-Mani'. Dialog itu direkomendasikan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz, yang dikenal sebagai Mufti Kerajaan Arab Saudi waktu itu. Syekh Abdul Aziz bin Baz sangat berseberangan dengan Al-Maliky.

Dalam dialog / perdebatan Sayyid Muhammad Al-Maliky dengan Ulama ahabi yang ditayangkan TV setempat dimenangkan oleh Sayyid Muhammad Al-Maliky dan kian mendapat simpati. Konon diam-diam keluarga kerajaan Arab Saudi pun sebenarnya berpihak kepada Sayyid Muhammad Al-Maliky, namun takut diketahui mayoritas pemeluk Wahabi.

Syekh Sulaiman Al-Mani' kemudian menerbitkan dialognya itu dalam bentuk buku yang diberi judul Hiwar Ma'al Maliki Liraddi Munkaratihi wa Dhalalatih ( Dengan dengan Maliki untuk menolak kemunkaran dan kesesatannya ).

Syekh Shalih bin Abdul Aziz Al-Syaikh kemudian juga menerbitkan buku yang berjudul Hadzihi Mafahimuna ( Inilah Pemahaman kami ), yang menghantam pemikiran Sayyid Muhammad Al-Maliky.

Sayyid Muhammad al-Maliky tak tinggal diam. Beliau juga menerbitkan buku yang tak kalah hebat dan populernya, dengan judul Mafahim allati Yajibu an Tushahhah ( Paham-paham yang harus diluruskan ). Buku ini kemudian menjadi buku andalannya dalam mempertahankan Pluralitas aliran di Tanah suci Makkah. Sayyid Muhammad Al-Maliky didukung sejumlah Ulama non Wahabi yang mulai terpinggirkan.

Dalam berbagai dalih, Sayyid Muhammad Al-Maliky justru mengusung pemikiran asli Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri aliran Wahabi, yang ternyata banyak disalah artikan oleh ulama-ulama pengikutnya. "Banyak kebohongan yang ditebarkan atas nama saya." Tulis Abdul Wahab.

Sayyid Muhammad Al-Maliky juga seorang pakar yang banyak menyumbangkan karya-karya ilmiah dan aktif mengikuti pertemuan-pertemuan fiqih yang diadakan oleh Rabithah Alam Al- Islamy. Beliau tercatat pernah aktif di Kepanitiaan Musabaqah Tahfidz dan Tilawatil Qur'an di Makkah pada masa-masa awal. Beliau banyak memberikan ceramah, diskusi, seminar, terkait dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, terutama Fiqih dan Hadits. Pada tahun 2003, beliau menyampaikan makalah tentang negara islam di Malaysia yang mendapat liputan luas, karena pendapatnya yang sedikit kontroversial.

Pemikiran Sayyid Muhammad Al-Maliky.

Banyak orang menyebut Sayyid Muhammad Al-Maliky sebagai Al-'Allamah ( seseorang yang sangat mengetahui ilmu agama ) atau Ulama besar. Bahkan, Syekh Muhammad Sulaiman Faraj, seoang ulama Makkah, menyebutnya sebagai Al-'Arifbillah ( seseorang yang telah memiliki derajat tinggi di sisi Allah swt ) . Beliau dianggap sebagai pakar hadits yang disebut sebagai Al-Muwaththa' berjalan.
Sayyid Mhammad Al-Maliky juga dikenal sebagai penukis produktif. Tak kurang dari 37 kitab berbagai topik telah ditulisnya. Bahkan ada yang mengatakan, beliau telah menulis lebih dari 50 karya. Karya-karya itu diterbitkan sendiri, lalu dibagikan kepada para santri atau tamu-tamunya.
Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain bahasa Indonesia, Melayu ( Malaysia ), Inggris dan bahasa Swahili ( Nigeria ). Karyanya yang termasyhur, antara lain :
• Mafahim allati Yajibu an-Tushahhah ( Paham-paham yang wajib diluruskan )
• Al-Insan al-Kamil ( Manusia sempurna )
• Abwabul Faraj ( Pintu-pintu kebahagiaan )
• Syaraful Ummah Muhammadiyah ( Keutamaan umat Muhammad )
• fiRihabi Baitillah ( Dala dekapan rumah Allah swt )
• Zubdatul itqan fi Ulumil Qur'an ( Samudera ilmu-ilmu Al-Qur'an ) yang merupakan ringkasan Al-Itqan, karya Imam Suyuthi.
• Dll.

Kitabnya yang berjudul Mafahim allati Yajibu an-Tushahhah membuka wawasan baru tentang hal-hal yang Selama ini masih menjadi polemik di kalangan sebagian umat Islam. Perbedaan pemahaman masalah bid'ah, Syafaat, tasawuf dan tawasul, misalnya tidak jarang menimbulkan pertentangan, permusuhan, bahkan saling mengkafirkan. Buku ini juga menjelaskan pikiran Wahabi yang orisinil. Kitab ini mendapat sambutan 40 ulama besar dunia.

Banyak pujian muncul, perihal kitab ini. Salah satunya dari Syekh Hasanain Muhammad Makhluf, ulama besar Mesir. Ia mengatakan, setelah meneliti kitab tersebut dengan seksama, tampak sekali, pembahasan buku ini dapat dijadikan hujah ( alasan ) dan burhan ( bukti ) ajaran islam yang benar. Dalam buku ini, Sayyid Muhammad Al-Maliky juga telah meletakkan meletakkan berbagai permasalahan secara proporsional, menjauhi sikap berlebihan dan bersikap adil. "Ia juga telah mencoba memperbaikiberbagai pemahaman keliru sambil memberikan nasihat kepada saudara-saudarnya, kaum Muslimin."

Menurut Al-'Allamah Syekh Muhammad Khazraj, untuk mewujudkan itu semua, Sayyid Muhammad Al-Maliky menggunakan berbagai dalil yang qath'i ( pasti ) serta argumentasi yang benar dan rasional. Hal senada juga dikemukakan Syekh Muhammad Al-Thayyib Al-Najjar. Ia mengatakan, kitab Mafahim ini betul-betul merupakan yang cukup berarti mengenai berbagai faham yang diyakini sebagian orang yang menganggap bahwa mengingkarinya sebagai suatu kebatilan.

Dalam Zubdatul Itqan, Sayyid Muhammad Al-Maliky mencoba menyederhanakan tulisan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Secara tematis kitab ini dibagi menjadi tujuh. Pertama, membahas ayat pertama dan terakhir diturunkan. Kedua, sebab-sebab turunnya ayat ( Asababun Nuzul ). Ketiga, penghafal Al-Qur'an, ragam Qiraat dan cara periwayatannya. Keempat, adab membaca Al-Qur'an dan kaidah-kaidah membaca Al-Qur'an. Kelima, kata serapan dalam Al-Qur'an dan seputar pengutipan ayat-ayat Al-Qur'an. Keenam, mengenai tata bahasa, sisi makna dan bandingan kata dalam Al-Qur'an. Ketujuh, tingkatan mufasir dan beberapa kaidah yang harus diketahui oleh mufasir.

Pendapat orang tentang Sayyid Muhammad Al-Maliky

• Syekh Hasanain Muhammad Makhluf mengatakan :
Sayyid Muhammad Al-Maliky sangat pantas untuk diakui sebagai pakar Islam, Ulama Al-Haramain asy-Syarifain, Ulama besar yang mendapatkan pancaran sinar Ilahi dan Percikan Sunah Nabi saw.
• Syekh Muhammad Khazraj ( Sejarawan dan Ahli Fiqih, mantan Menteri Keadilan, Kehakiman, agama dan Wakaf Uni Emirat Arab ) : 
Sayyid Muhammad Al-Maliky adalah seorang Alim yang vtersinari pohon kenabian dan berkah keturunan Bani Hasyim.
• Syekh Muhammad Ath-Thayyib Najjar ( Mantan Rektor Al-Azhar, Kairo ) : Kehidupan Sayyid Muhammad Al-Maliky bagaikan kehidupan sebatang pohon yang rindang, yang tumbuh di Padang subur dan mengembang dalam lingkungan alam yang baik, serta senantiasa diurus dan dipelihara, sehingga tumbuh semakin rindang. Dedaunannya demikian subur dan buah-buahannya tampak ranum dan segar sehingga dapat dinikmati semua orang.
• Prof.Dr.Rauf Syalabi ( mantan wakil Syekh Al-Azhar ) : 
Sayyid Muhammad Al-Maliky sebagai Ulama yang sangat berakhlaq. Saya telah mengenalnya sejak ia menjadi mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar. Sayyid Muhammad Al-Maliky adalah seorang Mahaguru yang agung dan kharismatik. Beliau termasuk ulama yang jumlahnya tidak banyak. Beliau termasuk ulama yang konsisten dalam memperjuangkan islam berdasarkan ilmu dan pemikiran seta mengikuti hidayah. Orang seperti beliau tidak membutuhkan al-ta'rif ( pengenalan ) atau semacam rekomendasi dan pengakuan resmi. 
• Dr. Ahmad Umar Hasyim ( mewakili Ulama Universitas Al-Azhar ) :
Sayyid Muhammad Al-Maliky sebagai Ulama yang bisa dibanggakan Arab Saudi.
• Syekh Muhammad Al-Audh ( Mantan Mufti dan ketua Dewan Fatwa Syariat Islam Sudan ) :
Sayyid Muhammad Al-Maliky sebagai Pelayan ilmu Masjidil Haram.

Tradisi Sadah di Mekah.

Ayahanda Sayyid Muhammad , yaitu Sayyid Alawy bin Abbas Al-Maliky lahir di Mekah tahun 1328 H adalah ulama terkenal. Di samping aktif berdakwah di Masjidil Haram dan kota-kota lain yang berdekatan seperti Thaif, Jeddah dan sebagainya, Sayyid Alawy adalah Ulama pertama yang memberi ceramah di radio Saudi setelah Shalat Jum'at dengan judul Haditsul Jum'ah. Kakek Sayyid Muhammad, yaitu Sayyid Abbas adalah seorang Qadhi ( hakim ) yang selalu diundang masyarakat Mekah jika ada perayaan pernikahan.

Selama menjalankan tugas dakwah, Sayyid Alawy selalu membawa kedua putranya, Sayyid Muhammad dan Sayyid Abbas. Adapun yang meneruskanaktivitas dakwahnya kemudian adalah Sayyid Muhammad; sementara Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya. 

Sebagaimana adat Sadah ( jamak Sayyid, keturunan Rasulullah ) dan Asyraf ( jamak syarif, orang-orang keturunan orang mulia ahli Mekah, Sayyid Muhammad Al-Maliky selalu tampil beda dengan ulama Saudi lainnya. Beliau mengenakan jubah, serban ( Imamah ) dan burdah atau Rida ( selendang ) yang biasa dikenakan asyraf Mekah.

Sebagai penerus ayahnya, Sayyid Muhammad Al-Maliky mengajar di Masjidil Haram secara halakah dan beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah dan Universitas Ummul Qura, Mekah, untuk ilmu Hadits dan Ushuluddin. Namun setelah cukup lama menjalan tugas sebagai dosen di dua Universitas tersebut, beliau mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil membuka majlis Taklim dan pondok di rumah beliau.pelajaran yang dberikan di Masjidil Haram atau rumah tidak terfokus pada ilmu tertentu seperti Universitas, melainkan juga semua pelajaran yang bisa diterima masyarakat, baik awam maupun terpelajar. Karena beliau punya keinginan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid. Dari rumah beliau telah lahir ulama-ulama yang tersebar di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apalagi Asia, yang merupakan orbit dakwahnya. Ribuan murid beliau tidak hanya menjadi Kyai dan Ulama, tetapi tidak sedikit juga yang masuk ke dalam birokrasi.

Disamping mengadakan pengajian dan taklim yang rutin setiap hari, beliaupun mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan dan minum tanpa dipungut biaya sepeserpun, bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar, para santri dipulangkan ke negara masing-masing untuk mensyiarkan agama.

Sayyid Muhammad Al-Maliky dikenal sebagai guru yang tidak beraliran keras. Beliau selalu menerima dialog dengan hikmah dan mauidzah hasanah ( petuah yang bagus ). Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat kaum muslimin menjadi manusia yang berprilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah swt dan kepada manusia, terhormat dalam perbuatan, tindakan, serta pikiran dan perasaan. Sayyid Muhammad Al-Maliky dikenal sebagai orang yang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur, serta adil dan bercinta kasih terhadap sesama.
Beliau juga selalu menghargai pendapat orang lain dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya. Beliau selalu bersabar terhadap mereka. Semua yang berlawanan diterima dengan senyum. Sayyid Muhammad Al-Maliky berusaha menjawab dengan hikmah dan menyelesaikan masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu, bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu.

Beliau tahu persis, kelemahan islam terdapat pada pertikaian para ulamanya. Dan ini memang yang diinginkan musuh islam. Sampai-ampai Sayyid Muhammad Al-Maliky menerima dengan rela digeser dari kedudukannya di Masjidil Haram. Beliau selalu menghormati orang-orang yang berpandangan khilaf yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah.

Ulama yang mendapat gembelengan dari Sayyid Muhammad Al-Maliky selalu menonjol. Disamping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu agama yang cukup untuk dijadikan referensi di negara-negara mereka.

Ketika terjadi teror di Arab Saudi, Sayyid mUhammad Al-Maliky diminta berbicara pada Hiwar Fikri ( Dialog Pemikiran ) yang diselenggarakan Ketua Umum Kepengurusan Masjidil Haram, Syekh Shaleh bin Abdurrahman Al-Hashin pada 5-9 Zulkaidah 1424 H. Dengan topik diskusi tentang ekstremisme, beliau mengeluarkan pendapat tentang thatarruf ( Fundamentalis dan extremis ). Dan dari ana kemudian menulis buku yang angat populer di kalanan masyarakat Arab Saudi, berjudul Al-Ghuluw Dairah bin Irhab wa Ifsad Al-Mujtama ( Kesesatan dalam teror dan Penghancuran Pranata Sosial ). Sejak itu, pandangan da pemikiran Sayyid Muhammad Al-Maliky tentang dakwah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat.
Selain sebagai Dai', pengajar, pembimbing, dosen, penceramah dan penggerak segala bentuk kegiatan bermanfaat bagi agama, Sayyid Muhammad Al-Maliky juga dikenal sebagai seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku telah ditulis dan beredar ke seluruh dunia. Tak sedikit kitabnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Urdu, Indonesia dan sebagainya.

Wafatnya Sayyid Muhamad bin Alawy Al-Maliky

Kisah Habib Hamid bin Zaid bin Muhsin bin Salim Al-Aththas saat terakhir kali bersama Sayyid Muhammad Al-Maliky.

Hamid Hamid pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Mustafa dan telah menikah dengan adik perempuan istri Sayyid Muhammad Al-Maliky. Seminggu sebelum Ramadhan 1425 H, Habib Hamid menerima telepon dari Sayyid Muhammad Al-Maliky di Mekah dan memintanya untuk datang ke Mekah untuk umrah dan menemuinya. 

Habib Hamid memenuhi undangan tersebut dan berama istrinya segera mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya. :Tiket dan visa sudah diurus oleh biro perjalanan yang ditunjuk Abuya ( panggilan hormat untuk Sayyid Muhammad Al-Maliky ). Aya hanya mengurus paspor. Seluruh biaya juga ditanggung Abuya." Kata Habib Hamid.

Hari kedua Ramadhan, ceritanya, Sayyid Muhamad Al-Maliky kembali meneleponnya. Beliau meminta Habib Hamid untuk segera terbang ke Mekah. "Kamu harus cepat menyelesaikan urusanmu, segeralah terbang ke Mekah." Kata Sayyid Muhammad Al-Maliky terkesan agak cemas. Hari keempat Ramadhan, kembali beliau menelepon untuk memastikan Habib Hamid dan istrinya jadi berangkat. " Ketika itu Abuya bilang agar saya langsung saja terbang ke Madinah untuk berziarah ke Makam Rasulullah saw dan shalat di Masjid Nabawi. Sekali lagi, saat itu, beliau meminta agar secepatnya sampai di Mekah."

Tepat pada 5 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid dan istri terbang menuju Madinah. Di bandar udara, dijemput oleh salah seorang murid Sayyid Muhammad Al-Maliky dan membawanya ke hotel yang telah disediakan. Dua hari di Madinah, kemudian terbang ke Mekah. " Saya sampai di Mekah pada tanggal 8 Ramadhan dan langsung istirahat di hotel yang disediakan Abuya. Sorenya baru dijemput oleh Habib Isa bin Abdul Qadir, salah satu murid beliau. Untuk menemui orang yang paling saya kagumi, Sayyid Muhammad Al-Maliky Al-Hasany. Sungguh tegang dan jantung berdetak lebih keras dari biasanya."

Sore itu, seusai sholat Asar, Abuya menerima Habib Habib di ruang kerjanya. " Beliau memelukku, mengucap selamat datang dan bertanya kabar teman dan muridnya di Indonesia, seperti Habib Abdurrahman Assegaf ( Bukit Duri ), Habib Abdullah Al-Kaf, K.H Abdullah Faqih ( Langitan ) dan ulama lainnya. Saya jawab semua baik-baik saja. Setelah itu saya kembali ke hotel. Beliau pesan, agar nanti berbuka puasa bersama dengannya."

Ketika saat berbuka puasa hampir tiba, utusan Sayyid Muhammad Al-Maliky menjemput Habib Hamid. "Hamid, apa yang kau bawa dari Indonesia." Tanya Abuya tiba-tiba, saat Habib Hamid masuk ke ruang kerjanya.

"Saya membawa dodol durian kesukaan Abuya!" jawab Habib Hamid.
Wajah Sayyid Muhammad Al-Maliky tampak gembira sekali. Beliau langsung membagikan oleh-oleh itu kepada teman-teman dan muridnya yang ada disitu. Beliau juga langsung mencicipinya, kebetulan saat buka puasa tiba.
"Ada titipan lagi buat saya?" tanya Abuya lagi.
"Ya, saya membawa buah mangga dan kelengkeng"
Dahi Abuya berkerut. "Kelengkeng? Buah apa itu ?" tanya beliau.
Habib Hamid menjelaskan buah kelengkeng dan meminta beliau mencobanya. "Abuya tampak suka sekali buah itu, dan memakannya sampai menjelang shalat isya" tutur Habib Hamid.
Malam itu, tepat malam tanggal 9 Ramadhan 1425 H, Habib berkesempatan shalat isya dan tarawih berjamaah bersama Sayyid Muhammad Al-Maliky. Saat itu ikut berjamaah beberapa ulama dari Turki, Mesir dan beberapa negara lain. Tiba-tiba Sayyid Muhamad Al-Maliky memanggil Habib Hamid.
"Hamid bin Zaid, kamu jadi imam Tarawih!" kata Sayyid Muhammad Al-Maliky.
Habib Hamid tidak merasa namanya yang dipanggil, sebab ia merasa tidak mungkin ditunjuk menjadi imam. Sementara disitu banyak ulama besar yang pasti lebih layak menjadi imam shalat tarawih. Sekali lagi Sayyid Muhammad Al-Maliky memanggil Habib Hamid.
"Hamid bin Zaid, kamu yang akan menjadi imam." 
"Sulit dipercaya, saya yang masih muda ini ditunjuk menjadi imam. Sementara di belakang saya ada Abuya dan ulama-ulama besar yang disegani. Sungguh, saya gemetar. Membaca surah Al-Fatihah yang biasanya lancar di luar kepala pun, menjadi terasa sanagt sulit. Alhamdulillah.....saya mampu melewati ujian berat itu dengan baik, meskipun harus gemetaran."
Selesai shalat tarawih, Sayyid Muhammad Al-Maliky membaca shalawat dan qasidah. "Menurut murid-muridnya, setiap Ramadhan, seusai shalat, beliau selalu membaca Qasidah Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Beliau juga sering berziarah ke makam istri pertama Nabi saw bersama keluarganya. Sebelum meninggalkan masjid, beliau memanggil dan menyuruh saya umrah malam itu juga."
"Sebelum saya berangkat umrah, Abuya sempat menanyakan keadaan Indonesia. Beliau ingin berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan para ulama dan murid-muridnya. Tapi wakyunya belum tepat, beliau bilang, kesibukan menulis buku dan pertemuan dengan para ulama Mekah, sangat menyita waktunya."
Pada 10 Ramadhan, kembali Abuya memanggil Habib Hamid untuk shalat tarawih bersama dan untuk kedua kalinya menyuruhnya umrah. "Ajaklah istrimu untuk umrah dan kembalilah untuk shalat shubuh berjamaah, pesan Abuya sebelum saya berangkat umrah. Saya pun berpamitan sambil meminta izin untuk pergi ke Jeddah, sekadar silaturrahmi ke saudara-saudara istri saya. Abuya hanya memberi izin dengan isyarat tangan dan wajah menunduk. Saya merasa, beliau tidak ingin mengizinkan saya pergi, tapi juga tidak ingin mencegah. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke Jeddah."
Pagi hari tanggal 11 Ramadhan, Habib Hamid shalat Subuh bersama bersama Sayyid Muhamad Al-Maliky. Beliau terkejut saat saya berada di sampingnya.
"Kamu tidak jadi pergi ke Jeddah?" tanyanya.
"Tidak Abuya" sahut Habib Hamid.
"Bagus!" jawab Abuya sambil memeluknya.
Malamnya, seperti hari sebelumnya, Habib Hamid berjamaah shalat tarawih yang diakhiri dengan membaca qasidah Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Malam itu juga, Habib Hamid mendapat perintah Sayyid Muhammad Al-Maliky untuk umrah yang ketiga kalinya.
"Pada 12 Ramadhan, selesai shalat Isya, Abuya menyuruhku untuk umrah yang keempat kalinya. Katanya, itu adalah umrah terakhir atas perintahnya. Perasaan saya memang tak enak saat beliau mengatakan itu. Ah, mungkin beliau punya rencana lain untuk saya besok."
Rabu 13 Ramadhan, untuk kedua kalinya, Habib Hamid ditunjuk menjadi Imam Tarawih oleh Sayyid Muhammad Al-Maliky. Saat itu jemaanya sekitar 200 orang, sebagian besar adalah tamu-tamu Abuya. "Malam itu, beliau merasa letih dan kakinya kesemutan." Cerita Habib Hamid. Di luar kebiasaan pula, kali ini, Abuya tidak membaca sholawat dan qasidah. Beliau meminta murid-muridnya, Bilal, Burhan, Aqil Al-Aththas dan satu murid asal Kenya, membacakan secara bergantian.
Sayyid Muhammad Al-Maliky kelihatan sangat lelah. Maklum terkadang selama hampir 24 jam terjaga. Tamunya tak pernah berhenti mengalir, dan di sela waktu luangnya, masih tekun 
Menulis dan membaca buku. Perpustakaan di rumah tinggalnya sampai membutuhkan tiga lantai. Kamarnya juga penuh dengan buku. Selain itu, beliau juga suka berkebun, tanahnya luas. "Abuya juga punya kebun buah yang cukup luas." Kata Habib Hamid.
Akhirnya, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliky masuk rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Menurut dokter, kondisinya cukup baik, hanya perlu istirahat di rumah sakit. Pada kamis 14 Ramadhan, istri dan keluarga beliau menjenguk.
" Apa kabar Hamid bin Zaid ? kamu betah disini ?" tanya Abuya ambil memandangku. Seperti biasanya, wajahnya kelihatan gembira, tidak seperti orang yang sedang sakit.
" Kami tidak lama di rumah sakit, karena istri dan anak-anak Abuya akan berziarah ke Ma'la, ke makam Syyidah Khadijah Al-Kubra. Ziarah kali aneh. Biasanya istri Abuya tidak pernah turun dari mobil. Beliau membaca sholawat dan qasidah dari dalam mobil. Eh, hari itu beliau dan semua anggota keluarga bersama-sama Al-Fatihah di makam istri pertama Rasulullah saw." Ungkap Habib Hamid.
Malamnya, murid dan kerabat beliau berkumpul di rumah akit. Wajah beliau tidak berubah, tetap gembira, seperti tidak sedang sakit. " Sekitar jam 20.00. dokter datang, dan mengatakan Abuya sudah sembuh. Kami semua memekik, Allahu Akbar!"
Sesaat kemudian, Sayyid Muhammad Al-Maliky meminta izin kepada dokter untuk menengok keluarga dan murid-muridnya. Tepat jam 00.00, beliau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke mobil, Abuya menghadap ke langit selama dua menit. Bilal, salah satu muridnya bertanya, " Ada apa, Abuya ?" Beliau menjawab, " tidak ada apa-apa" . saat itu, seharusnya bulan sedang purnama sangat indah, namun malam itu justru tertutup awan. " Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, beliau selalu memintaagar murid-muridnya melihat bulan, dan bertanya apakah bulan sudah kelihatan ?"
Dari rumah sakit, beliau tidak langsung ke rumah, tapi ke pondok pesantren, untuk menemui murid-murinya. Saat itu jam 03.00. " Saya sendiri yang membukakan pintu gerbang. Setelah itu, datang Sayyid Abbas, adiknya, bersama keluarga yang lain. Kami bersama-sama membaca qasidah, lalu terlibat dalam obrolan yang sesekali diselingi dengan tertawa lebar" cerita Habib Hamid sambil mengenang peristiwa penting itu.
Pertemuan malam itu, katanya, diakhiri dengan sahur bersama. Sebelumnya, Abuya sempat bertemu kakaknya dan bikin perjanjian untuk berbuka puasa hanya dengan tiga buah kurma dan air zamzam. " Pas jam 04.00, beliau meminta semuanya istirahat dan bersiap shalat shubuh. Beliau sendiri masuk ke kamar kerjanya."
Di kamar itu, beliau ditemani Bilal dan Burhan. Tapi Bilal diminta keluar kamar. Saat itulah, Sayyid Muhammad Al-Maliky tiba-tiba bertanya kepada Burhan. " Hai, Burhan. Aku sebaiknya istirahat di kursi atau di Bumi ( maksudnya karpet ) ?"
" Terserah Abuya." Sahut Burhan bingung. Karena tidak tahu harus menjawab Abuya. Bagaimana mungkin seorang murid memutuskan sesuatu untuk gurunya ?
" Saya akan istirahat di bumi saja." Kata Sayyid Muhammad Al-Maliky.
Beliau kemudian duduk menghadap kiblat dan bersandar. Sesaat, sempat mengambil buku dari tangan Burhan. Tapi kemudian, diletakkan di meja, lalu Beliau menengadah menyebut, 
"Lailaaha illallah...Innalillahi wainna ilaihi raji'un..........."
hanya itu yang terucap dari mulut Burhan. Hari tepat tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau 29 Oktober 2004, saat pagi mulai membuka kehidupan, Sayyid Muhammad bin Alawy bin Abbas Al-Maliky Al-Hasany wafat.
Jenazah almarhum langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menyuruh semua keluarga dan murid-murid beliau untuk pulang ke Pondok Pesantren. Tepat seusai shalat subuh, ambulan rumah sakit yang membawa jenazah Abuya, tiba di kediaman beliau. " saya pingsan. Ya, sepertinya, pertemuan saya dengan beliau hanya untuk mengantarkan jenazahnya ke Ma'la, tempat beliau di makamkan, dekat dengan makam Sayyidah Khadijah Al-Kubra, yang qasidahnya dibaca setiap kali selesai shalat tarawih."

Pemakaman Sayyid Muhammad Al-Maliky

Jum'at petang persis menjelang malam Nuzulul Qur'an, di Masjidil Haram, Mekah, jenazah Sayyid Muhammad Al-Maliky di sholatkan. Dengan iringan tahlil dan tasbih ( suatu amalan yang jarang dilakukan, karena dianggap bid'ah bagi kaum Wahabi ), sekitar 25 000 muslimin Mekah dan sekitarnya mengantarkan jenazah Ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah ini ( menurut cerita, bagi orang-orang yang menggotong jenazah / berdekatan dengan jenazah, mereka mencium aroma harum yang wangi ). Sepanjang jalan yang dilewati konvoi dan iring-iringan, orang berjubel keluar rumah dan toko, memberikan penghormatan terakhir pada ulama yang pernah beberapa tahun mengisi pengajian di Masjidil Haram ini. Sebagian besar ada yang mematikan lampu, tanda memberi hormat. Ada seorang pria berkulit hitam berteriak histeris karena tekanan duka dan bela sungkawa itu.
Bahkan pangeran Sultan bin Abdul aziz, perdana menteri dua Kerajaan Arab Saudi yang juga merangkap menteri pertahanan dan penerbangan sipil, menyempatjan bertakziah, mewakili raja Fahd, pada hari ke empat di Rushayfah. Pangeran Sultan yang didampingi Gubernur Mekah, Pangeran Abdul Majid dan sejumlah pejabat tinggi negara.
" Allah swt telah memilihkan hari yang baik dan bulan yang baik buat Syekh Muhammad Al-Maliky. Sebab pada bulan ini, Allah swt memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya." Kata Pangeran Sultan seperti dikutip harian Al-Wathan.
Putra mahkota Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz, Kamis 4 November 2004, berkenan menerima keluarga Sayyid Muhammad Al-Maliky di istana Ash-Shafa, Mekah. Pangeran Abdullah sempat mendoa'kan Sayyid Muhammad Al-Maliky dan menyebut beliau sebagai Ulama kebanggan Arab Saudi.

Wassalm

NASEHAT UMAR BIN KHATTHAB





Betapa hinanya andai kata kita Ummat Islam tidak mengenal siapa itu Saidina Umar Bin Khatthab, Sahabat Nabi SAW yang paling ditakuti musuh, sahabat Nabi yang tegas dan pemberani.

Saidina Umar Bin Khatthab merupakan salah satu Sahabat Nabi yang sudah di jamin oleh Allah masuk syurga. Umar ra. Selalu dikenang oleh para pemimpin dunia sampai skarang, dengan keadilan yang beliau terapkan kepada Ummat sungguh membuat kedamaian dan kesejahteraan, kata – kata beliau yang sangat bersahaja dan bermakna menjadi pedomman hidup bagi setiap manusia. 
berikut kata-kata yang dapat diambil dari Umar Bin Khattab ini 

“Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri menunjukkan kata-kata lemah lembut”

“Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yg menimbulkan persangkaan maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk padanya”

“Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan,”
 (Shifatush Shafwah, I/286) 

“Tidak ada ertinya Islam tanpa jemaah dan tidak ada ertinya jemaah tanpa pemimpin dan tidak ada ertinya pemimpin tanpa ketaatan”.

Aku tidak pedulikan atas keadaan susah atau senangku kerana aku tidak tahu manakah diantara keduanya yang lebih baik dariku”.

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar".

"Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku".

“Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai,” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126).

“Kalau kita bermewah-mewah di dunia akan kurang ganjarannya di akhirat”.

“Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya,” (Ihya’ Ulumuddin 4/203) Sayyidina Umar bin Khattab RA

“Apabila engkau melihat orang yang berilmu mencintai dunia, maka curigailah ia mengenai agamanya, kerana orang yang mencintai sesuatu ia akan menyibukkan diri dengan apa yang dicintainya itu”.

“Duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah,” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71)

"Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rizki yang lebih baik daripada sabar".

"Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki".

"Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya".

"Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga," Sayyidina Umar bin Khattab RA

"Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat".

"Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau".
"Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya".

"Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut".

"Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah".

"Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji".

"Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan".

"Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya".



Semoga Kata Kata Mutiara Islam dari Sayyidina Umar Bin Khattab ini dapat bermanfaat bagi kita semua, . .  Aamiin. . .

Selasa, 24 Februari 2015

NASEHAT LUQMAN AL-HAKIM KEPADA ANAKNYA




Luqman Al-Hakim mengajar anaknya ilmu yang datang dari sisi Allah Yang Maha Mengetahui. Beliau pernah berpesan dan memberikan lebih daripada 50 nasihat kepada anaknya. Di antaranya:
.
1.  “Wahai anak kesayanganku! Allah SWT memerhatikan dirimu dalam kepekatan malam, semasa engkau bersolat atau tidur lena di belakang tabir di dalam istana. Dirikan solat dan jangan engkau berasa ragu untuk meninggalkan perkara makruh dan melempar jauh segala kejahatan dan kekejian.”
2.  “Wahai anakku! Selalulah berharap kepada Allah SWT tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak menderhakai Allah SWT. Takutlah kepada  Allah SWT dengan sebenar-benar takut (takwa), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah SWT.”
3.  “Wahai anak! janganlah engkau mempersekutukan Allah SWT (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.”
4.  “Wahai anakku, Bersyukurlah kepada Tuhanmu kerana kurniaan-Nya. Orang yang mulia tidak mengingkari Penciptanya kecuali orang yang kufur.”
5. “Wahai anakku! Bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmutetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah seperti orang yang mencari kayu api, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mahu menambahkannya.”
 6.  “Wahai anakku! Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Jika engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama TAKWA, isinya ialah IMAN dan Layarnya adalahTAWAKKAL kepada Allah SWT.”
7. “Wahai anakku! Orang-orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah SWT. Orang yang insaf dan sedar setelah menerima nasihat orang lain, maka dia akan sentiasa menerima kemulian dari Allah SWT juga.”
8.  “Wahai anakku! Jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya’ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.”
9.   “Wahai anakku! Jangan engkau berjalan sombong serta takbur, Allah SWT tidak meredai orang yang sombong dan takbur.”
10. “Wahai anakku! Selalulah baik tutur kata dan halus budi bahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.”
11.  “Wahai anakku! Bilamana engkau mahu mencari kawan sejati, maka ujilah dia terlebih dahulu dengan berpura-pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha menginsafkan kamu, maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati-hatilah.”
12.  “Wahai anakku! Apabila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.”
13.  “Wahai anakku! Sesesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, sesiapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandungi racun dan sesiapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.”
14.  “Wahai anakku! Bergaul rapatlah dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya kerana sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur lalu disirami air hujan.”
15.  “Wahai anakku! Janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan hati, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, dan janganlah mensia-siakan hartamu.”
16.  “Wahai anakku! Sekiranya kamu di dalam solat, jagalah hatimu, sekiranya kamu makan, jagalah kerongkongmu, sekiranya kamu berada di rumah orang lain, jagalah kedua matamudan sekiranya kamu berada di kalangan manusia, jagalah lidahmu.”
17.  “Wahai anakku! Usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, berusahalah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.”
18.  “Wahai anakku! Berdiam diri itu adalah hikmah (perbuatan yang bijak) sedangkan amat sedikit orang yang melakukannya.”
19.  “Wahai anakku! Janganlah engkau menghantarkan orang yang tidak cerdik sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.”
20. “Wahai anakku! Janganlah engkau bertemankan dengan orang yang bersifat talam dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.”
21.  “Wahai anakku! Sesungguhnya orang bertalam dua muka bukan seorang yang jujur di sisi Allah SWT.”
22.  “Wahai anakku! Jauhilah bersifat dusta, sebab berbohong itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.”
23. “Wahai anakku! Sesiapa yang berbohong hilanglah air mukanya dan sesiapa yang buruk akhlaknya banyaklah dukacitanya.”
24. “Wahai anakku! Bersabarlah di atas apa yang menimpa dirimu kerana yang demikian itu menuntut kepastian kukuh daripadamu dalam setiap kejadian dan urusan.”
25.  “Wahai anakku! Apabila engkau mempunyai dua pilihan di antara takziah orang mati atau hadir majlis perkahwinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkahwinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.”
26. “Wahai anakku! Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu adalah lebih baiknya bila makanan itu diberikan kepada  anjing sahaja.”
27.  “Wahai anakku! Janganlah engkau terus menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah terus memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.”
28. “Wahai anakku! Aku pernah makan makanan yang baik dan memeluk yang terbaik tetapi aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih lazat daripada kesihatan.”
29. “Wahai anakku! Seandainya perut dipenuhi makanan, akan tidurlah akal fikiran, tergendala segala hikmah dan lumpuhlah anggota badan untuk beribadat.”
30. “Wahai anakku! Apabila perutmu telah penuh sesak dengan makanan, maka akan tidurlah fikiranmu, menjadi lemah hikmahmu dan berhentilah (malas) seluruh anggota tubuhmu daripada beribadat kepada Allah SWT dan hilanglah kebersihan hati (jiwa) dan kehalusan pengertian, yang dengan sebab keduanyalah dapat diperoleh lazatnya munajat dan berkesannya zikir pada jiwa.”
31.  “Wahai anakku! Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa danmusyawarahlah urusanmu dengan para alim ulamak dengan cara meminta nasihat dari mereka.”
32. “Wahai anakku! Jangan engkau berlaku derhaka terhadap ibu dan ayahmu dengan apa jua sekalipun, melainkan apabila mereka menyuruhmu derhaka kepada Yang Maha Berkuasa.”
33. “Wahai anakku! Allah mewasiatkan dirimu; berbuat baiklah dengan ibu dan ayahmu. Justeru, jangan engkau mengherdik mereka dengan perkataan mahupun perbuatan dibenci.”
34. “Wahai anakku! Seandainya ibubapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang kamu lakukan, maka marahnya ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam-tanaman.”
35. “Wahai anakku! Orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah SWT, maka dia tawadduk kepada Allah SWT, dia akan lebih dekat kepada Allah SWT dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada Allah SWT.”
36. “Wahai anakku! Seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya kerana tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rosak akhlaknya akan sentiasa banyak mengelamunkan hal-hal yang tidak benar.”
37.  “Wahai anakku! Andainya ada sebutir biji sawi terpendam di dalam batu, pasti ketahuan jua oleh Tuhanmu Yang Maha Melihat, Allah Amat Mengetahui segala sesuatu, zahir mahupun batin atau apa yang engkau sembunyikan di dalam dadamu.”
38. “Wahai anakku! Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.”
39. “Wahai anakku! Engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi daripada semua itu adalah bilamana engkau mempunyaijiran yang jahat.”
40. “Wahai anakku! Aku pernah memindahkan batu-bata dan memikul besi, tetapi aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih berat daripada hutang.”
41.  “Wahai anakku! Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.”
42. “Wahai anakku! Apakah tidak engkau perhatikan, apa yang Allah bentangkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan di bumi daripada kebaikan yang amat banyak?”
43. “Wahai anakku! Apa yang engkau menikmati di kehidupan ini lantaran kurniaan-Nya yang penuh keamanan, keimanan dan kebaikan yang melimpah ruah, di taman dunia yang subur mekar dengan bunga-bungaan serta tumbuhan yang berseri-seri.”
44. “Wahai anakku! Ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu.”
45. “Wahai anakku! Janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan oleh dunia saja kerana engkau diciptakan Allah SWT bukanlah untuk dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.”
46. “Wahai anakku! Jangan engkau buang dunia ini ke bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka.”
47.  “Wahai anakku! Tidak ada kebaikan bagimu untuk mempelajari apa yang belum kamu tahu sedangkan kamu belum beramal dengan apa yang kamu tahu.”
48. “Wahai anakku! Ingatlah dua perkara iaitu Allah SWT dan mati, lupakan dua perkara lain iaitu kebaikanmu terhadap hak dirimu dan kebaikanmu terhadap orang lain.”
49. “Wahai anakku! Kehinaan dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWTlebih mendekatkan diri daripada mulia dengan maksiat (perkara menyebabkan dosa) kepada-Nya.Janganlah anakku undurkan melakukan taubat, sebab kematian datangnya tiba-tiba, sedang malaikat maut tidak memberitahukannya terlebih dulu.”
50. “Wahai anakku! Sesungguhnya lama bersendirian itu dapat memahami untuk berfikir dan lama berfikir itu adalah petunjuk jalan ke syurga.”
Begitulah 50 nasihat yang diberikan oleh Luqman Al Hakim kepada putera kesayangannya. Semoga ianya bermanfaat kepada diri kita juga.
.
.
والله أعلم بالصواب
Wallahu A’lam Bish Shawab
 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

Sabtu, 21 Februari 2015

UMUR BUKAN PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU


Termotivasi dengan "Tuntutlah Ilmu mulai dari ayunan hingga ke liang lahad" soal umur boleh sudah tua namun kewajiban dalam dunia sebagai hamba Allah wajib menuntut ilmu sampai kapanpun. bukan penghalang bila umur sudah tua namun malah semangat kuat untuk menimba ilmu sebagai persiapan bekal pulang ke hadharat Allah SWT, Santri majlis ta'lim Al-Fatayat ini berjumlah lebih kurang sekitar 110 lebih.

Pengajian rutin yang jadwalnya pada hari Minggu bertempat di Asrama Santriwati, kenapa harus Asrama yang digunakan untuk Santri yang sudah berumur ini, dikarenakan belum ada tempat yang bisa menampung jumlahnya 100 lebih.

Mengingat semakin hari semakin bertambah peserta majlis ta'lim dari luar desa tersebut maka sungguh sangat perihatin ketika kita melihat bagaimana berdesakan tempat duduk mereka, semoga Dayah mampu menyediakan tempat pengajian bagi Santriwati yang sudah berumur ini pada tempat yang layak duduk.


SILATURRAHMI


Setiap Tahun dua kali berkunjung ke Dayah Ruhul Fata Seulimuem Aceh Besar dalam rangka mengunjungi sang guru besar Al Mukarram Syaikhuna Tgk. H. Mukhtar Luthfi Bin Al Mursyid Al Alim Tgk. H. Adul Wahhab Bin Abbas Al Khadramy yang merupkan guru dari pimpinan Dayah Fauzul Fata Gp. Neuheun Kec. Batee Kab. Pidie Tgk. H. Nasaiy Bin Tgk. H. Syaikh Aburrahman Beurabo.

Dalam kunjungan wajib biasanya santri menyebutnya yaitu kunjungan murid kepada gurunya, termasuk juga guru yang  mengajar di Dayah Fauzul Fata merupakan alumni Dayah Ruhul Fata Seulimuem.

Perjalanan yang jauh yang melintasi Kabupaten bukan menjadi suatu masalah yang berat untuk kegiatan kunjungan wajib ketika lebaran tiba. dengan menggunakan Mobil Pik up atau Moto Geureubak istilah kita orang Aceh, yang tidak mempunyai atap untuk menutupi mentari selama perjalanan menuju tempat tujuan.

Santri sudah terbiasa dengan menggunakan Mobil yang tidak beratap sekalipun rawan terjadi kecelakaan malah santri merasa nyaman dikarenakan bisa melihat-lihat alam sekitar dan dapat mehilankan rasa mual dan muntah.

Ya... semoga Dayah memiliki transpor yang dapat dipergunakan untuk kunjungan seperti ini, dengan menggunakan jasa mobil rang lain dengan arti menyewa penuh berapa yang bisa menampung satriwan dan santriwati untuk berkunjung ke tempat guru.

Selasa, 17 Februari 2015

GURU PILIHAN






Peranan dan tenaga pendidik sangat penting dalam pendidikan. Betapapun baiknya konsep sebuah lembaga yang didukung oleh fasilitas dan prasarana yang cukup lengkap, namun akan kurang nilainya bila ditangani oleh guru yang kurang berkualitas. 

Oleh karena demikian rekruitmen guru di Dayah Fauzul Fata dilakukan dengan proses seleksi dari Pimpinan Dayah, di mana guru yang ditempatkan pada tingkatan kelas disesuaikan dengan kemampuan intelektual mereka. 













Di Dayah Fauzul Fata saat ini berjumlah 21 guru, yang terdiri dari guru laki-laki semua. Sebahagian besar guru yang mengajar di Dayah Fauzul Fata adalah alumni dari Dayah Ruhul Fata Seulimuem Aceh Besar, dan sebahagiannya dari Dayah itu sendiri yang telah menguasai dan menjiwai nilai dan sunnah pesantren tersebut.
Sebahagian Dewan guru yang pernah mengajara di Dayah Fauzul Fata berasal dari luar Kabupaten, Seperti: Tgk Nazaruddin Sani berasal dari Kuala Bakong Aceh Jaya beliau pernah menuntut Ilmu di Dayah Ruhul Fata Seulimuem Aceh Besar kemudian menimba Ilmu di Dayah Fauzul fata dan menjadi Seorang guru yang mempunyai kualitas yang tinggi jika di bandingkan dengan yang seangkatannya.

Tgk. Husain berasal dari Aceh Barat Daya, Abdya merupakan guru yang profosional serta syaeihk zikir yang ulet. Tgk. Zamzami Bagok Aceh Timur juga merupakan guru yang kelulusan Dayah Fauzul Fata. Tgk. Fakhrurrazi yang tempat lahirnya di Sampoiniet Aceh Jaya.



Tak lupa juga di masa Tahun 2013 di anggkat menjadi guru Tgk. Wahyu Abrar Hisida yang berasal dari Kuala Bakong Aceh Jaya. dan Tgk. Zulfikar yang juga berasal dari daerah yang sama yaitu Kuba Aceh Jaya.

Dan sebagian guru berasal dari dalam Kecamatan Batee namun berbeda Kampung kelahirannya.

CURICULUM




KURIKULUM DAN JENJANG PENDIDIKAN

Metode pengajaran dan pendidikan di lembaga dayah ini terdiri dari tiga tingkat :
a) Ibtidaiyah (Matrikulasi) 1 tahun
b) Sanawiyah 3 tahun
c) `Aliyah 4 tahun
d) Takhassus (Makhad ‘Ali) 5 tahun

Kurikulum Pendidikan :

Kelas Ibtidaiyah:

Fiqih, Nahu, Sharaf, Tasawuf, Tauhid, Tajwid, Al-Qu`an. Safinatunnaja, Matan Taghrib, `Awamel, Jarumiyah, Dhammon, Matan Bina, Taisirul Khallaq, `Aqidah Islamiyah, dan Qishashul Ambia.

Kelas Sanawiyah:

Fiqih, Nahu, Sharaf, Hadits, Tasawuf, Tauhid, Tarikh, Al- Qur`an. Al-Bajuri, Matammimah, Kailani, Hadits Matan Arba`in, Ta`Lim Muta`allim, Khamsatun Mutun, dan Khulasah Jilid I.

Kelas ‘Aliyah:

Fiqih, Nahu, Tauhid, Sharaf, Hadits, Usul, Mantiq, Tasawuf, Tarikh, Al-Qur`an, I`Anatut Thalibin jilid 1&2, Syaih Al-Khalid, Kifayatul `Awam, Kailani, Waraqat, Matan Sulam, Daqaiqul Akhbar, Idhahul Mubham, Lathaiful Isyarah dan Khulasah Jilid dan III

Kelas Takhassus (Makhad Ali’):

Tauhid, Fiqih, Nahu, Sharaf, Tasawuf, Mantiq, Usul Fiqh,  Bayan, Ma`ani, Tafsir / Al-Qur`an, Hadits, Tarikh, Dusuqi, Mahalli, Tahrir, Alfiah, Mathlub, Sirajuthalibin, Sabban Al- Malawy, Ghayatul Ushul, Jauhar Maknun, Shawi, Majalisuts Tsaniah, dan Nurul Yaqin.
Catatan :

Bagi semua tingkat juga diberi materi khusus praktek dakwah setiap malam jum`at dan belajar zikir.

Bagi semua tingkat juga diwajibkan shalat berjama`ah lima waktu.
Bagi tingkat takhassus (makhad ’ali) diberi materi khusus mengikuti pelajaran tambahan yang ditetapkan.



SEJARAH SINGKAT



SEJARAH BERDIRINYA DAYAH FAUZUL FATA GAMPONG NEUHEUN

Gambaran Singkat

Lembaga pendidikan Islam Dayah Fauzul Fata merupakan salah satu dayah salafiyah yang mempunyai dasar-dasar/prinsip Islam yang kuat di Provinsi Aceh, terletak di Gampong Neuheun Kecamatan Batee Kabupaten Pidie. Lebih kurang 14 KM dari kota Sigli, Ibu kota Kabupaten Pidie. Dayah Fauzul Fata didirikan oleh Al-Mukarram Syaikhuna Tgk. H. Nasaie bin Tgk. H Abdurrahman (Abi Neuheun) pada tahun 2001 M. Beliau mendalami ilmu Agama Islam pada Dayah Ruhul Fata Seulimuem Kecamatan Seulimuem Aceh Besar dibawah bimbingan Al-'Alim Al-Mursyid  Tgk. H. 'Abdul Wahhab bin 'Abbas bin Sayed Al-Hadhramy (Abu Seulimuem) serta di teruskan pada Al-Mukarram Syaikhuna Tgk. H. Mukhtar Luthfi bin Tgk. H. 'Abdul Wahhab bin 'Abbas bin Sayed Al-Hadhramy (Abon Seulimuem) pada tahun 1987 M sampai pada tahun 1994 M. Selanjutnya beliau melanjutkan Study di Ma’had Al-Azhar Kairo, Mesir pada tahun 1994 M sampai pada tahun 1998 M Selama 4 (empat) tahun beliau menimba ilmu Agama di salah satu Negeri bahagian timur, Mesir, Kairo. 


Kemudian beliau melanjutkan Studynya di Dayah Darus Sa’dah Kemukiman Ulee Gajah, Bagok Aceh Timur pada tahun 1998 M sampai pada tahun 2000 M.  Abi Neuheun adalah salah seorang Teungku atau pimpinan Dayah yang kharismatik dan disegani serta menjadi rujukan masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul di tengah-tengah kehidupan masyarakat, hal ini dikarenakan sikap dan akhlaknya yang konsisten berpihak pada kebenaran dan keadilan, kritis terhadap pemerintah yang kurang memperhatikan kaidah dan hukum Islam dalam menjalankan roda pemerintahan.


Sebelum berdirinya Dayah ini beliau mengajar dirumah dengan berkapasitas satu balai pengajian dan thalabahnya hanya santriwati saja yang terdiri dari jumlah berkisar antara tiga puluhan (±30), itupun thalabah dari masyarakat Gampong Neuheun tempat beliau berkediaman, Tgk. H. Nasaie Bin Abdurrahman Beurabo (Abi Neuheun) adalah seorang pendatang, beliau berasal dari Gampong Meukee Kemungkinan Beurabo Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie yang berkeluarga di Gampong Neuheun tersebut. 


Kemudian pada tahun 2000 Keuchik Neuheun beserta Seluruh perangkat Gampong dan masyarakat Gampong meminta beliau mendirikan sebuah Dayah yang berstatus kepemilikan masyarakat Gampong Neuheun dan beliau menjadi Pimpinannya. Namun beliau tidak berminat untuk mendirikan dayah di Kampong Neuheun tersebut pada waktu itu beliau sudah mempunyai tempat yang akan dijadikan untuk membangun dayah milik sendiri yang terletak loksinya di sekitar Kecamatan Padang Tiji, Pada ketika itu Seluruh masyarakat bersama dengan tokoh masyarakat dan Kepala desa mendatangi Abon Seulimuem di Seulimuem Aceh Besar, Masyarakat memohon dengan air mata berderai kepada Gurunya beliau bahwa agar beliau bersedia menjadi Pimpinan yang akan didirikan di Kampong Neuheun Kecamatan Batee Kabupaten Pidie, Abon Seulimuem sebagai gurunya beliau yang tak pernah sekalipun membantah apapun yang disuruh gurunya.


Kemudian Abon merasa sedih ketika masyarakat memohon seperti demikian dan meminta kepada beliau untuk mau dan bersedia menjadi pimpina dayah tersebut, Tepat pada tahun 2001 siaplah sudah dayah didirikan walau hanya memiliki beberapa balai pengajian, dimana dirasahnya hanya kepada masyarakat di sekitar dayah, dengan jumlah thalabah saat itu sekitar lima puluh orang yang dibantu oleh 4 (empat) orang tenaga pengajar. Dengan ma'unah Allah dan dengan berkat doa gurunya serta dengan niat beliau yang ikhlash lillahi Ta'ala maka dayah ini mulai berkembang. Thalabah yang belajar tidak hanya berasal dari kecamatan Batee tetapi juga berasal dari luar kecamatan bahkan kabupaten. Seiring dengan perkembangannya.


Dayah Fauzul Fata mendapat beragam hambatan baik dari gejolak politik yang berimbas kepada dayah dan gangguan keamanan dalam negeri, berdampak terhadap terganggunya proses pengajian, berkat ma'unah Allah dan kegigihan serta sifat istiqamah beliau dalam berjuang mempertahankan kebenaran serta menyebarkan ilmu Agama, dan dengan keberaniannya dalam melawan segala bentuk kedhaliman, berupa Sihir, khurafat dan bid'ah dhalalah (sesat), Alhamdulillah dayah Fauzul Fata tetap menjalankan aktifitas pengajian, bahkan telah menjadi salah satu dayah type A di dalam Kabupaten Pidie dan golongan type C di Aceh yang memiliki peran penting terhadap keselamatan ummat.


Sistem pembelajaran yang dilaksanakan oleh Tgk. H. Nasaie Bin Abdurrahman  merupakan kolaborasi antara pengalaman di Dayah Ruhul Fata Seulimuem Aceh Besar dan Ma’had Al-Azhar Kairo, Mesir serta dengan ilmu yang bersumber dari dayah – dayah yang pernah beliau menimba ilmu, beliau juga pernah menimba Ilmu di Dayah Tungkop yang pimpinannya Ayah Ismail Tungkop Pidie yang dikenal sebagai Ulama Kharismatik di Aceh dan juga beliau pernah menuntut ilmu di Dayah Al-Mukarram Syaiekh AL-Alim Nek Abu Adnan Bakongan Aceh Selatan, dan pada Ulama ulama yang lainnya dengan tetap istiqamah atas prinsip dayah Salafiah yang murni mengajarkan ilmu Agama dan mempelajari kitab karangan ulama-ulama terdahulu atas dasar mazhab Syafi'ie dalam Furu' Syari'at dan mazhab Ahlussunnah Waljama'ah dalam I'tiqad. 


Kepemimpinan Tgk. H. Nasaie Bin Abdurrahman dayah Fauzul Fata telah mengalami banyak perubahan, baik dalam bidang pendidikan dayah untuk para santriwan/wati dan pengajian untuk para masyarakat di sekitar dayah. Namun dengan sarana dan prasarana dayah juga belum berkembang, dan belum mencapai tahap awal apalagi tahap kesempurnaan. Beliau juga disibukkan dengan mengajar 6 (enam) tempat Mejlis Ta’lim yang berlokasi Di Dayah, Mesjid Mahmudiyah Batee, Meukee Padang Tiji, serta Mesjid Beurabo Padang Tiji.


Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Dayah Fauzul Fata (DAFAUTA) berlokasi di Gampong Neuheun Kemungkiman Pandee Kecamatan Batee Kabupaten Pidie Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Indonesia



FASILITAS DAN SARANA




Sarana yang dimiliki oleh Dayah Fauzul Fata dalam rangka menunjang pendidikan adalah :

1. Lokasi komplek
Lokasi komplek Dayah Fauzul Fata Gampong Neuheun Kecamatan Batee Kabupaten Pidie memiliki luas 1.5 Hektar

2. Kamar penginapan
Kamar penginapan yang ada di dayah Fauzul Fata adalah berfariasi, yaitu ada yang berkonstruksi kayu dan juga konstruksi permanen terdiri dari 30 kamar.

3. Fasilitas air bersih dan sanitasi
Untuk fasilitas air bersih dan sanitasi di Dayah Fauzul Fata tersediah satu sumur yang luasnya sekitar 3x4 m hanya memakai mesin pemompa air yang jarak sekitar 500 meter dari lokasi dayah, itu hanya digunakan untuk kebutuhan berwudhuk saja sedangkan untuk mandi dan cuci hanya dengan air sumur yang ada di Dayah dan airnya sudah tentu asin. 

Sementara untuk kebutuhan minum para santri diambil dari sumur bor yang terletak 1 kilo meter dari dayah, sumur bor ini bantuan dari Pemerintah untuk masyarakat Gampong Crueng, Pulo Pandee, Kemungkiman Pandee Kecamatan Batee Kabupaten Pidie, jadi bagi masyarakat lain di pungut biaya, termasuk juga bagi santri Dayah Fauzul Fata, ada juga santri yang lansung membeli air untuk di minum dengan pesanan pada yang jualan air minum sumur bor itu, dan ada santri yang lansung membeli air mineral berupa Aqua dll.

4. Dapur
Sebagaimana santri di dayah lain, tradisi penyediaan makan di Dayah Fauzul Fata Batee secara individual disiapkan sendiri oleh santri. Dayah hanya menyediakan tempat/dapur berupa bangunan kayu seluas 4X9 m, di mana para santri meletakkan lemari masak dan peralatan masak yang diperlukan.

5. Lokal belajar
Ada dua jenis lokal belajar yang ada di Dayah Fauzul Fata yaitu lokal belajar berbentuk balai dan yang satu lagi di dalam mesjid sebagai lokal yang disediakan karena tidak cukup balai, dan bagi santriwati digunakan balai dan Asrama sebagai lokal belajar. Jumlah local ada 9 balee

6. Mesjid bagi santri
Mesjid ini merupakan sarana ibadah shalat berjamaan yang dilakukan setiap 5 waktu digabungkan antara santriwan dan santriwati.

7. Perumahan Guru
Perumahan ini hanya ada 1 (satu) Unit diperuntukkan khusus kepada dewan guru yang telah berkeluarga dan guru itu bukan putra daerah. Sementara dewan guru yang lain tinggal di asrama santri untuk menjadi pengasuh para santri.

8. Lapangan Olahraga
Hanya area dayah yang digunakan oleh santri untuk berolah raga baik di pagi hari maupun di sore hari.

PERMOHONAN BEASISWA SANTRI DI TAHUN 2014




Surat Permohonan sudah kami sampaikan pada tanggal 22 Oktober 2014 akan tetapi belum juga mendapat beasiswa santri. Padahal mereka yang bertugas di kantor Badan Pembinaan Pendidikan Dayah di Kabupaten Pidie yang datang lansung ke Dayah Fauzul Fata untuk meminta surat Permohonan beasiswa santri. dan yang paling disayangkan sungguh tidak ada lagi berita sama sekali. dikemanakah beasiswa santri milik dayah Fauzul Fata atau memang juga belum keluar. Pihak daayah sudah coba menghubungi Badan Dayah Kabupaten untuk mencari informasi, namun sampai sekarang mereka tersendat - sendat kala menjawabnya.

Inilah Surat Permohonan Beasiswa Santri yang sudah kami layangkan dalam bentuk kertas ketikan :


Nomor : Istimewa
Lampiran   : 1 (satu) Berkas
Sifat         : -
Perihal : Mohon Beasiswa Santri 
          Tahun 2014

Neuheun, 22 Oktober 2014

Kepada Yth :
Bapak Gubernur Aceh
Melalui :
Kepala Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh
Di – 
Banda Aceh

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : M. Muzany
Tempat/Tgl/ Lahir : Nueheun, 21 Januari 2003
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan         : Santri
Kelas : IIa
Dayah : Fauzul Fata Gampong Neuheun Kec. Batee Kab. Pidie


Dengan ini mengajukan permohonan kepada bapak sudikiranya dapat memberikan beasiswa kepada saya untuk mendukung kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan di Dayah.

Sebagai bahan pertimbangan Bapak turut saya lampirkan sebagai berikut :
1. Biodata
2. Surat Keterangan dari Pimpinan Dayah
3. Surat Pernyataan tidak menerima beasiswa berprestasi dari dinas/badan/intansi/lembaga lain               yang bersumber dari APBA 2014
4. Pas photo ukuran 3 X 4 cm sebanyak 2 (dua) lembar
5. Rekening Bank Aceh
Demikian permohonan ini saya sampaikan semoga terkabul hendaknya dan atas perhatian Bapak saya ucapkan terimakasih.

                                                                                                               Hormat saya
                                                                                                                  Pemohon,


                                                                                                              ( M. Muzany )












SURAT PERNYATAAN TIDAK MENERIMA BEASISWA SANTRI BERPRESTASI TAHUN 2014 DARI DINAS/BADAN/INSTANSI/LEMBAGA LAIN YANG BERSUMBER DARI APBA TAHUN 2014

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : M. Muzany
Tempat/Tgl. Lahir : Neuheun, 21 Januari 2003
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan         : Santri
Kelas : IIa
Dayah : Fauzul Fata Gampong Neuheun Kecamatan Batee Kabupaten Pidie

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya dahwa saya tidak pernah dan tidak akan menerima Beasiswa Santri Berprestasi Tahun 2014 dari Dina/Badan/Instansi/Lembaga lain yang bersumber dari APBA 2014.

Demikian pernyataan ini saya perbuat denga sebenarnya dan apabila ternyata pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mengembalikan beasiswa tersebut secara utuh.






Mengetahui :                                                                          Neuheun, 22 oktober 2014
Pimpinan Dayah Fauzul Fata                                                 Santri yang bersangkutan,



( Tgk. H. Nasaie AR )                                                                     ( M. Muzany )