Senin, 30 April 2018

Kisah Nabi Adam A.S


Nabi Adam A.S

Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh - tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.


Kekhawatiran Para Malaikat.

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t.: "Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."


Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Iblis Membangkang.

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis:"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis menjawab:"Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."

Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.


Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah."


Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya: "Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."

Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:"Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."


Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:"Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan."

Adam Menghuni Syurga.

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:"Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?"

Berkatalah Adam:"Seorang perempuan."Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya."Siapa namanya?"tanya malaikat lagi."Hawa",jawab Adam."Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?",tanya malaikat lagi.

Adam menjawab:"Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."


Allah berpesan kepada Adam:"Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.

Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.

Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini."

Iblis Mulai Beraksi.

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.

Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.

Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.
Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."

Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar. Seraya menyesal berkatalah mereka:"Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."


Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.

Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu.

Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah,hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya,akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu.Berfirmanlah Allah kepada mereka:"Turunlah kamu ke bumi sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disan sampai waktu yang telah ditentukan."

Diturunkan Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali.Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Kisah Adam dalam Al-Quran.

Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A'raaf ayat 11 sehingga 25
Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam.

Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia - keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.

Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.Rahmat allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.

Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.


Sabtu, 28 April 2018

DI UJI OLEH JIN (kisah Abu Nawas)

Selain memiliki kecerdikan, Abu Nawas juga dikenal memiliki kejujuran yang sangat besar. Adalah kaum jin yang masih penasaran dan belum percaya akan kejujuran Abu Nawas. Salah satu jin kemudian ingin menguji Abu Nawas.

Suatu hari Abu Nawas pergi ke hutan untuk menebang pohon yang kemudian akan dijual untuk biaya kebutuhan keluarganya. Seperti biasanya ia membawa sebuah kapak tua kesayangannya yang akan digunakan untuk menebang. Karena tidak hati-hati ketika bekerja, kapaknya tersebut terlepas dari tangannya lalu terjatuh entah dimana. Abu Nawas pun segera mencari-cari namun tidak kunjung menemukannya. Ia pun duduk duk merenung dengan perasaan sedih. Karena hanya memiliki satu kapak, ia pun merasa sangat sedih karena tidak bisa melanjutkan pekerjaannya.

Dalam perasaan yang sangat sedih itu, tiba-tiba datanglah jin yang menyamar menjadi seorang laki-laki berbaju putih. Jin itu datang dan menggoda Abu Nawas yang kondisinya mulai labil.

"Hai Abu Nawas, kenapa kamu terlihat sedih sekali?" Tanya jin.

"Iya pak,,, Kapak ku telah jatuh ke jurang, jadiaku tidak dapat melanjutkan pekerjaanku lagi. Padahal itu adalah satu-satunya kapak yang aku miliki." Jawab Abu Nawas sedih.

"Oh begitu, saya akan bantu untuk mencarikannya untukmu." Kata jin.

Sang jin pun mencari-cari kesana sini sekitar tempat Abu Nawas menebang pohon tadi. Pada waktu itulah kesempatan jin untuk menguji Abu Nawas. Terbersit di benak jin untuk memberikan kapak yang lain yang terbuat dari emas, jin itu ingin mengetahui apa reaksi Abu Nawas nantinya.

"Wahai Abu Nawas, apakah ini kapakmu?" Tanya jin sambil menunjukkan kapaknya.

"Bukan, kapak saya jelek." Jawab Abu Nawas.

Sesaat kemudian jin kembali mencari-cari, dan selanjutnya kembali menunjukkan kapak kedua yang terbuat dari perak kepada Abu Nawas.

"Bukan, itu bukan kapak saya." Jawab Abu Nawas menolak.

Jin itu pun mulai salut atas sikap Abu Nawas yang jujur. Jin itu berkata,

"Hai Abu Nawas, kenapa kamu ini begitu jujur, kapak yang lebih bagus dari kepunyaan mu?" Tanya jin.

"Pak, sesungguhnya aku sangat bersyukur atas apa yang aku miliki. Aku tidak ingin mendapatkan sesuatu yang bukan hakku. Bagiku, kapak yang jelek itu adalah milikku. Dengan kapak itulah aku bisa bekerja secara halal dan mendapatkan kayu untuk aku jual." Jelas Abu Nawas.

"Rasa syukur?" Tanya jin heran.

"Ya, karena rasa syukur itulah yang membuatku tidak mau mengambil barang yang bukan menjadi hakku." Tegas Abu  Nawas.

"Wahai Abu Nawas, sesungguhnya kedua kapak emas dan perak ini adalah milik ku, tapi karena engkau telah menunjukkan kejujuran mu yang besar kepadaku, maka ketiga kapak ini aku berikan kepadamu." Kata jin sambil memberikan kedua kapak beserta kapak Abu nawas yang telah hilang tadi.

Abu Nawas sangat senang dan kembali bersyukur atas rezeki yang telah diterimanya. Jin itu pun pamit pegi meninggalkan Abu Nawas.

KHUTBAH JUM'AT (kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari dihari Jumat, Abu Nawas yang ditunjuk menjadi imam sekaligus khatib untuk memberikan Khutbahnya pada jamaah yang berhadir.

Ketika waktu Jumat akan tiba, Abu Nawas segera bergegas menuju masjid. Tidak lama kemudian suara adzan pun berkumandang tanda masuknya waktu Jumat, Para jamaah berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan Shalat Jumat.

Abu Nawas pun segera memulai Khutbahnya, cuaca hari itu sangat terik banyak para jamaah yang tertidur ketika Abu Nawas sedang berkhutbah. Melihat banyak jamaah yang tertidur, Abu Nawas yang sedang berkhutbah tiba-tiba berteriak,

"Api Api Api." Kata Abu Nawas dengan keras mengejutkan semua jamaah.

Spontan saja para jamaah yang tertidur terbangun kaget, menoleh kiri dan kanan mendengar teriakan Abu Nawas itu.

Sebagian malah ada yang hanya saling pandang terbengong-bengong.

"Dimana apinya, dimana??" Tanya para jamaah yang panik.

"Api neraka !!!!bagi mereka yang lalai dalam beribadah."Jawab Abu Nawas seraya melanjutkan khutbahnya

Mendengar perkataan Abu Nawas, baru para jamaah tersadar dan mengerti dengan maksud Abu Nawas. Para jamaah pun mulai serius mendengarkan ceramah khutbah dari Abu Nawas, dan kemudian melaksanakan ibadah Shalat Jumat dengan kusyuk.

PEMBAGIAN KAMBING (Kisah Abu Nawas)

Suatu hari datanglah tiga orang dari desa menghadap Baginda Raja Harun Ar -  Rasyid di istana. Mereka datan untuk mencari pembenaran pada masalah yang mereka hadapi bersama. Begitu sampai di istana, mereka langsung menghadap baginda yang ketika itu sedang bersama pembesar-pembesar kerajaan. Salah satu dari mereka berkata,

"Ampun beribu ampun tuanku !! Kedatangan kami kesini tidak lain hanyalah untuk meminta penyelesaian tentang persoalan yang sedang melilit kami bertiga." Kata salas seorang dari mereka yang bernama Ahmad.

"Baiklah, ceritakan apa persoalan kalian?" Tanya baginda.

"Begini baginda, saya, Ahmad, mempunyai dua ekor kambing betina, Zulfikar mempunyai seekor kambing jantan, sedangkan Zubair tidak mempunyai kambing. Karena itulah Zubair yang setiap hari harus bekerja menggembalakan kambing. Apabila ketiga kambing itu beranak pinak, maka pembagian keuntungannya juga telah kami sepakati, yakni saya mendapat separuh dari jumlah kambing, Zulfikar memperoleh sepertiga dari jumlah kambing, sedangkan Zubair yang menggembala dan merawat yang mendapat bagian seperdelapannya." Jelas Ahmad.

"Lantas apakah kambing itu sekarang telah beranak-pinak?" Tanya Baginda.

"Benar baginda, ketiga kambing itu sekarang sudah berjumlah menjadi 23 ekor. Karena itu, kami sekarang ingin membaginya sesuai dengan kesepakatan kami dulu. Tapi ternyata kami kesulitan untuk membaginya. Karena itulah kami ke sini ingin memohon pertolongan baginda." Terang Ahmad.

Membagi 23 ekor kambing sesuai perjanjian tentu tidak mudah. Bayangkan, bila Ahmad memperoleh pembagian separuh dari kambing-kambing itu, maka Ahmad sebenarnya mendapat bagian sebelas ekor lebih setengah kambing. Sedangkan Zulfikar memperoleh pembagian sepertiga seharusnya mendapatkan tujuh ekor lebih dua per tiga kambing. Sementara Zubair mendapatkan seperdelapannya yang berarti dua ekor kambing lebih tujuh per delapan kambing.

Baginda raja tampaknya berusaha berpikir keras untuk memecahkan persoalan tersebut. Bahkan para pejabat yang hadir di tempat tersebut juga tak sanggup memecahkan pasalah tersebut. Karena orang yang hadir di tempat tersebut tak ada yang bisa memecahkan masalah itu, akhirnya baginda terpikir untuk mengundang Abu Nawas dengan kecerdasannya menyelesaikan banyak persoalan.

Atas perintah raja, Sampailah Abu Nawas di istana. Bagida kemudian memerintahkan Ahmad untuk menceritakan semua persoalan rumit yang mereka hadapi kepada Abu Nawas.

"Wah..., itu masalah kecil, baginda. Insya Allah saya bisa membantu mencarikan jalan keluarnya!!" Kata Abu Nawas.

"Tolong bawakan kambing itu masuk semuanya!" Pinta Abu Nawas.

Setelah ke 23 ekor kambing tersebut dituntun masuk istana, Abu Nawas lalu menghitung kembali jumlah kambing tersebut. Sesudah kambing itu dihitung dan benar jumlahnya 23, Abu Nawas mulai berpikir keras mencari solusi dari masalah yang cukup rumit tersebut. Tidak lama kemudian Abu Nawas kembali berkata,

"Izinkan saya meminjam kambing baginda, seekor saja!"Pinta Abu Nawas.

"Nah, sekarang saatnya saya akan membagi kambing tersebut sesuai dengan porsi kalian saat perjanjian!" Kata Abu Nawas setelah menambahkan sekor kambing milik baginda raja

"Ahmad yang berhak memperoleh separuh kambing, maka boleh mengambil 12 ekor. Sedangkan engkau Zulfikar yang memperoleh bagian sepertiganya, maka boleh mengambil delapan ekor!" Perintah Abu Nawas.

Terakhir Zubair yang memperoleh bagian seperdelapannya, maka engkau berhak mengambil bagian 3 ekor kambing. Sisa satu, karena saya tadi meminjam satu ekor kambing milik baginda, maka ini saya kembalikan lagi kambing tersebut." Kata Abu Nawas

Masing-masing telah mendapatkan bagiannya. Semua merasa puas atas bantuan Abu Nawas, mereka pun berterima kasih dan kembali ke ke rumah masing-masing.Tidak lupa baginda pun turut berterimakasih Kepada Abu Nawas atas bantuan Abu Nawas menyelesaikan persoaalan rakyatnya.

PEKERJAAN YANG MUSTAHIL (kisah Abu Nawas)

Suatu hari Baginda Raja Harun Al Rasyd sedang merenungkan sesuatu, tiba-tiba ia teringat akan kisah Nabi Sulaiman As yang mampu memerintahkan banyak makhluk menjadi bawahannya, baginda raja sangat tertarik ketika Nabi Sulaiman memerintahkan bangsa jin untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis ke istananya. Baginda raja kemudian mendadak ingin istananya berpindah keatas gunung agar ia dapat melihat seluruh wilayah negerinya. Baginda merasa pekerjaan tersebut bukanlah suatu yang mustahil, jika ia dikerjakan oleh Abu Nawas.

Abu Nawas dipanggil menghadap keistana untuk sebuah pekerjaan besar. Ketika sampai di hadapan baginda berkata kepada Abu Nawas,

“Wahai Abu Nawas, aku punya sebuah pekerjaan untukmu dan aku rasa pekerjaan itu tidak akan mustahil bagi dirimu yang memiliki banyak akal dalam setiap permasaalahan.”

“Apakah kiranya pekerjaan itu, ya baginda?”  Tanya Abu Nawas.

“Aku ingin engkau memindahkan istanaku ke atas gunung supaya aku dapat melihat seluruh isi negeri ini. Sanggupkah engkau melakukannya wahai Abu Nawas?”  Kata baginda.

Sejenak Abu Nawas terdiam tidak berkata apa-apa. Mungkinkah aku dapat melakukannya, pikir Abu Nawas. Namun ia tidak pernah mengecewakan baginda raja dengan menolak permintaannya. Abu Nawas kemudian menyanggupi permintaan raja meskipun itu adalah mustahil. Baginda raja memberikan tempo satu bulan kepadanya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Abu Nawas meninggalkan istana dengan hati yang gundah gulana, ia kembali ke rumahnya untuk mencari sebuah inpirasi yang akan meloloskannya dari permasaalahan itu. Tetapi sudah berhari-hari ia juga belum menemukan akal untuk memindahkan istana baginda ke atas gunung.

 Kabar tentang mega proyek Abu Nawas mulai tersebar di tengah masyarakat Negeri Bagdad, sebagian mereka meyakini kesanggupan Abu Nawas. Akan tetapi tidak sedikit yang meragukannya. Semua harap-harap cemas tidak sabar menunggu hari penentuan tiba untuk melihat keajaiban yang dibuat Abu Nawas.

Sepertinya pekerjaan itu memang mustahil dilakukan oleh seorang manusia biasa, tidak mungkin memindahkan istana sebesar itu hanya dengan menggunakan akal pikiran, tanpa ada bantuan lain Pikir Abu Nawas. Sudah delapan hari, Abu Nawas masih memeras otaknya untuk menemukan cara memuluskan perintah baginda. Tibalah pada hari kesembilan, akhirnya Abu Nawas menemukan solusi yang akan membebaskan dia dari jeratan hukum sang baginda.

Abu Nawas segera bergegas menuju istana menemui baginda raja untuk membicarakan mega proyeknya tersebut. Baginda menyambut kedatangan Abu Nawas dengan senyum. Abu Nawas kemudian berkata kepada baginda,

“Ampun baginda, kedatangan hamba kemari untuk mengajukan usul guna kelancaran pekerjaan hamba.”

“Usul apa yang hendak engkau ajukan?”  Tanya baginda.

“Kurang dua puluh hari lagi kita akan melaksanakan hari raya Qurban, hamba berencana akan memindahkan istana baginda ini tepat pada hari raya Qurban.”

“Baiklah aku terima usulmu.” Kata baginda.

“Yang mulia ada satu lagi permintaan hamba." Tambah Abu Nawas.

“Apa itu, sebutkan?” Tanya baginda.

“Hamba ingin di hari raya Qurban nanti baginda sudikiranya dapat menyembelih sepuluh ekor sapi gemuk untuk diberikan kepada fakir miskin.” Kata Abu Nawas.

Baginda menyetujunya, Abu Nawas kemudian meninggalkan istana dengan wajah riang, pikiran tenang. Ia tidak lagi harus memeras otak untuk berpikir mencari solusi, kini ia hanya menghabiskan waktunya menunggu hari raya Idul Adha tiba.

Hari raya Qurban telah tiba, rakyat berbondong-bondong menuju lapangan melaksanakan Shalat Idul Adha. Setelah Shalat Idul Adha selesai dilaksanakan, tibalah saatnya menyembelih sapi untuk Qurban, kemudian memasak dan membaginya kepada fakir miskin.

Shalat dan Qurban telah selesai dilaksanakan, kini tiggallah giliran Abu Nawas untuk menyelesaikan tugasnya seperti yang dijanjikan. Abu Nawas berjalan menuju istana, rakyat berbondong-bondong mengikutinya untuk menyaksikan keajaiban yang luar biasa yang akan dilbuat Abu Nawas.

Sesampainya di luar istana, baginda raja memang sedang menunggunya menyelesaikan hasil kerjanyaannya memindahkan istana baginda ke atas gunung.  Abu Nawas kemudian bertanya kepada baginda,

“Ampun baginda, apakah di dalam istana masih ada orang?”  Tanya Abu Nawas.

“Tidak ada, Abu Nawas.” Jawab baginda.

Abu Nawas berjalan beberapa langkah kedepan mendekati istana. Ia kemudian berdiri mematung di sana, seraya terus memperhatikan istana.  Baginda raja yang sudah tidak sabar dan merasa heran, kemudian bertanya,

“Apa yang engkau tunggu hai Abu Nawas, kapan engkau akan mengangkat istanaku ini?” Tanya baginda.

“Ampun Baginda, hamba dari tadi memang sudah siap mengangkat dan memindahkan istana baginda ke atas gunung.” Kata Abu Nawas.

“Lantas, Apa lagi yang engkau tunggu?” Tanya baginda semakin tidak sabar.

“Hamba menunggu istana baginda diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir dan meletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu barulah hamba dapat memindahkan istana baginda ke atas gunung, seperti perintah baginda kepada hamba.”

Mendengar jawaban Abu Nawas, baginda raja tidak dapat berkata apa-apa selain diam-diam mengagumumi kepandaian Abu Nawas keluar dari setiap masalah yang dihadapinya.

MEMBALAS PERBUATAN RAJA (Kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari yang tenang tatkala Abu Nawas sedang tidak di rumahnya, datanglah beberapa orang pekerja yang diutus oleh Baginda Raja Harun Al Rasyd ke rumah Abu Nawas. Mereka berkata kepada istri Abu Nawas bahwa baginda raja semalam bermimpi jika dibawah rumah Abu Nawas terkubur harta terpendam yang tidak ternilai harganya, oleh sebab itu baginda raja memerintahkan kepada mereka untuk membongkar rumah Abu Nawas dan menggali  tanahnya. Istri Abu Nawas berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan para pekerja baginda raja tersebut, tetapi mereka mengacuhkannya dan terus menggali hingga dalam. Setelah siap menggali, mereka sama sekali tidak menemukan apa-apa kemudian kembali ke istana dengan meninggalkan lubang yang dalam di rumah Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas kembali ke rumah, alangkah kagetnya ia mendapati rumahnya yang telah hancur dan ada lubang besar di dalamnya. Istrinya pun menemui Abu Nawas menghidangkan makanan untuknya dan menceritakan apa yang telah terjadi pada rumah mereka. Abu Nawas tertunduk sedih mendengar cerita istrinya, ia seketika kehilangan nafsu makannya. Tidak habis pikir baginda raja tega memberi perintah semena-mena untuk menghancurkan rumahnya yang merupakan tempat dia dan keluarganya berteduh dan berkumpul menghabiskan waktu bersama . Ia semakin bertambah sakit hati karena baginda raja tidak meminta maaf kepadanya dan tidak pula mengganti semua kerugian atas perusakan paksa yang dilakukan pekerja istana.

Semalaman Abu Nawas tidak bisa tidur dan juga makan makanan yang telah dihidangkan istrinya. Dia terus memikirkan bagaimana caranya ia dapat membalas perbuatan baginda raja yang telah semena-mena padanya. Pagi pun tiba, tapi dia juga belum menemukan satu pun ide yang bisa digunakan. Makanan yang dihidangkan istrinya juga tidak dimakan, sehingga makanan itu menjadi basi. Maka datanglah lalat-lalat hinggap di makanannya, Abu Nawas kemudian memperhatikan lalat-lalat itu dan dengan tiba-tiba terbesitlah di dalam kepalanya sebuah ide, ia tertawa gembira karena telah mendapatkan cara membalas perlakuan raja.

Abu Nawas kemudian memanggil istrinya,

 “Tolong bawakan kepadaku sebatang besi dan sehelai kain untuk membungkus makanan”

 “Wahai suamiku, untuk apa engkau meminta itu” Tanya sang istri keheranan.

“Aku ingin membalas perbuatan baginda raja kepada kita,.  Jawab Abu Nawas.

Ia kemudian membungkus makanannya dan segera pergi ke istana menemui baginda raja dengan membawa makanan yang telah dibungkus beserta lalat-lalat yang hinggap di dalamnya, juga sebuah besi pemukul. Ia kemudian menemui baginda raja yang kebetulan sedang bersama para menterinya seraya membungkuk memberi hormat.

Abu Nawas berkata kepada baginda:

“Ampun Tuanku, kedatangan hamba kesini adalah untuk meminta keadilan untuk hamba dari tamu-tamu tak diundang yang datang ke rumah hamba dan tanpa seizin telah memakan makanan hamba.”

“Wahai Abu Nawas,  siapakah gerangan tamu-tamu yang tak diundang itu?”  Tanya baginda.

Abu Nawas kemudian menjawab sambil membuka bungkusan makanannya:  

“Lalat-lalat ini ya baginda, hamba ingin mendapatkan keadilan dari baginda atas perlakuan lalat-lalat ini kepada hamba, karena sebagai pemimpin negeri ini kepada baginda lah hamba meminta keadilan.”

Baginda raja kemudian kembali bertanya,

 “Wahai Abu Nawas, keadilan seperti apa yang engkau inginkan dariku?”

“Hamba ingin baginda raja memberikan sebuah izin tertulis untuk hamba, supaya hamba diberi kuasa untuk menghukum lalat-lalat ini kapanpun dan dimanapun hamba berada.”  Jawab Abu Nawas.

Baginda raja merasa bingung terhadap permintaan Abu Nawas yang sangat aneh, namun demi keadilan untuk rakyatnya ia pun dengan terpaksa membuat sebuah surat kuasa yang memuat tentang pemberian izin kepada Abu Nawas untuk menghukum lalat-lalat kapanpun dan dimanapun ia hinggap dan tidak ada seorangpun yang boleh melarangnya.

Setelah mendapatkan surat kuasa dari baginda raja, Abu Nawas tersenyum. Tanpa menunggu lama ia langsung mengeluarkan sebuah besi pemukul yang telah dibawanya dari rumah, kemudian langsung memukul lalat-lalat yang ada di makanannya. Lalu lalat-lalat terbang dan hinggap dimana-mana di kaca, di meja sampai di tempat makan baginda raja. Abu Nawas tidak peduli, terus memukul dimanapun lalat hinngap hingga seisi ruangan itu hancur berkeping-keping dibuatnya, semua perabotan dan barang-barang raja hancur.

Baginda raja dan pengawal istana tidak dapat melakukan apa-apa menyaksikan Abu Nawas menghancurkan semua benda-benda berharga di ruangan itu karena Abu Nawas telah mendapat izin tertulis dari beliau. Baginda sadar dan merasa malu kepada menteri-menterinya tentang apa yang telah dilakukan kepada rumah Abu Nawas dan keluarganya tanpa meminta maaf dan mengganti rugi.

Setelah puas memporak-porandakan seisi ruangan bagida raja, Abu Nawas kemudian kembali ke rumah dan menceritakan kepada istrinya apa yang telah ia lakukan ketika menghadap baginda raja.

AYAM JANTAN (kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari, Baginda Raja Harun Al Rasyid mengunjungi sebuah tempat pemandian air hangat bersama para pembesar-pembesarnya. Tatkala mereka sedang asyik berendam dan bercengkrama dengan riuhnya, suasana menjadi senyap sesaat karena tiba-tiba baginda raja berkata kepada para pembesarnya.

“Wahai para menteriku, aku punya sebuah ide untuk untuk menjebak Abu Nawas.”  Kata baginda.

“Apa itu wahai paduka?” Tanya salah satu pembesarnya.

“Aku tidak akan memberitahu kalian sekarang. Aku hanya ingin mengundang Abu Nawas besok sore untuk berendam bersama kita di sini. Akan tetapi aku menghendaki kalian datang lebih awal ke sini mendahului Abu Nawas.” Kata baginda kepada para pembesarnya.

Para pembesar kerajaan keheranan, sebab baginda tidak memberitahukan maksud dan tujuannya, tetapi karena itu merupakan perintah, maka merekapun mematuhinya.

Besoknya pada sore hari. Seperti yang telah direncanakan, baginda raja bersama para pembesarnya tiba lebih awal di tempat pemandian itu. Baginda kemudian membagikan sebutir telur kepada setiap pembesarnya, termasuk dirinya juga memiliki sebutir. Setelah semua telur habis dibagikan, baginda kemudian memberikan arahan singkat kepada para pembesarnya tentang apa yang akan dilakukan untuk menjebak Abu Nawas. Setelah diberi arahan, barulah para pembesar mengerti apa yang direncanakan oleh baginda. Mereka kemudian langsung menuju kolam untuk berendam.

Sesaat setelah mereka berendam, Abu Nawas yang sebelumnya sudah diundang kemudian datang dan menyusul ikut berendam bersama baginda dan para pembesarnya. Abu Nawas mulai merasa was-was, karena ia menyadari bahwa baginda raja pasti telah merencanakan sesuatu untuk menjebaknya. Abu Nawas terus melamun memikirkan kira-kira apa yang akan dilakukan baginda terhadapnya kali ini.

Lamunannya tiba-tiba menjadi buyar karena ia tersentak oleh perkataan baginda raja, 

“Hai Abu Nawas, ketahuilah bahwa aku mengundangmu mandi bersama di sini karena aku ingin engkau ikut dalam sebuah permainan yang sudah aku rencanakan.”

Abu Nawas bertanya pada baginda, 

“Permainan yang seperti apakah wahai baginda?”

“Kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah di alami oleh manusia dan hanya bisa dilakukan oleh binatang.”

Kata baginda pada Abu Nawas.

“Mohon baginda jelaskan, apa maksud dari pemainan ini?”Tanya Abu Nawas semakin penasaran.

“Setiap orang dari kita yang ikut dalam permainan ini harus bisa bertelur seperti ayam. Oleh sebab itu barang siapa yang tidak bisa bertelur ia akan diberi hukuman.” Jelas baginda.

Setelah mendengarkan penjelasan baginda, Abu Nawas menjadi lesu kehilangan semangat. Ia berpikir kalau kali ini ia akan masuk ke perangkap baginda raja, karena sebelumnya ia benar-benar tidak mengetahui apa rencana baginda raja terhadapnya.

Abu Nawas terus terhanyut dalam lamunannya, sampai tiba-tiba perkataan baginda raja mengejutkannya. Baginda berkata kepada semua orang yang ikut dalam permainan termasuk Abu Nawas.

“Baiklah, sekarang kita akan memulai permainannya. Kita semua harus menyelam ke dalam air dan kemudian kembali naik keatas menunjukkan telur kita masing-masing.” Kata baginda tersenyum.

Mereka semua mulai menyelam, kemudian satu persatu hingga seluruhnya para pembesar dan baginda  mulai kembali muncul ke atas. Masing-masing mereka menunjukkan sebutir telur ayam. Abu Nawas masih menyelam di dalam air, ia masih berpikir bagaimana cara meloloskan diri dari hukuman. Karena paru-parunya sudah semakin terdesak, ia akhirnya segera ke permukaan untuk bernapas.

Baginda kemudian langsung bertanya kepada Abu Nawas,

“Dimana telurmu hai Abu Nawas? Hanya engkau yang belum menunjukkan pada kami.”

Dengan tiba-tiba Abu Nawas langsung berkokok seperti ayam jantan dengan suara keras. Baginda dan para pembesarnya merasa keheranan dengan tingkah Abu Nawas.

“Apa yang engkau lakukan Abu Nawas, dimana telurmu? Jika tidak ada engkau akan dihukum?” Desak baginga.

“Ampun tuanku, hamba tidak bisa bertelur seperti baginda dan para pembesar lainnya.” Jawab Abu Nawas dengan tenang sambil membungkuk memberi hormat pada baginda.

“Jika begitu, engkau harus dihukum!!” Kata baginda merasa senang karena dapat menjebak Abu Nawas.

“Tunggu dulu baginda!!” Kata Abu Nawas pada baginda.

“Apa lagi wahai Abu Nawas?” Tanya Baginda yang sudah tidak sabar memutuskan hukuman untuk Abu Nawas.

Abu Nawas kemudian menjawab, 

“Sebelumnya izinkan hamba memberikan penjelasan untuk membela diri”.

Baginda mengangguk memberikan izin.

Abu Nawas kemudian menjelaskan pembelaannya.

“Mohon Ampun yang mulia, Bukannya hamba tidak bisa bertelur. Sebenarnya hamba bisa saja melakukan seperti para pembesar dan baginda lakukan. Tetapi hamba merasa diri hamba tidak cocok menjadi ayam betina, karena itulah hamba memilih menjadi ayam jantan. Bukankah ayam jantan tidak bisa bertelur? Hanya ayam betina yang akan bertelur.” Kata Abu Nawas kepada baginda sambil kemudian kembali berkokok keras seperti ayam jantan.

Baginda dan para pembesar hanya terdiam dengan wajah memerah karena malu telah dianggap sebagai ayam betina oleh Abu Nawas. Tanpa berkata apa-apa baginda beserta para pembesarnya segera memakai pakaian dan pergi meninggalkan pemandian, sedang Abu Nawas hanya tersenyum melepas kepergian mereka.

RAJA IKUT MENGEMIS (kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari Abu Nawas yang sedang bersantai beranda rumah bersama istrinya tiba-tiba didatangi oleh beberapa pengawal kerajaaan. Para pengawal tersebut diperintahkan baginda untuk menghadirkan Abu Nawas menghadap ke istana.

Mendengar titah baginda, Abu Nawas pun segera bergegas menuju istana bersama para pengawal itu. sesampainya di istana untuk menghadap, baginda langsung berkata,

"Wahai Abu Nawas, saat ini aku sangat membutuhkan bantuanmu menyelesaikan sebuah masalah." Kata baginda.

"Ampun baginda, apa yang bisa hamba bantu?"  Tanya Abu Nawas.

Baginda lalu mulai bercerita kepada Abu Nawas. Baginda mengatakan jika ia telah mendapat laporan tentang seorang saudagar kaya di negeri itu yang kikir dan menolak membayar zakat.

Mendengar cerita baginda, Abu Nawas lalu memberi usul,

"Mengapa Baginda tidak panggil saja dia ke istana? Lalu masukkan dia ke penjara?" Tanya Abu Nawas.

"Sebenarnya bisa saja aku berbuat demikian. Namun jika ada cara yang lebih halus untuk menyadarkannya kenapa harus menghukumnya. Karena Bagaimanapun dahulu sebelum menjadi saudagar ia adalah seorang yang sangat rajin bersedekah dan membayar zakat." Kata baginda.

"Jadi Abu Nawas, adakah cara lain yang lebih halus darimu agar ia segera tersadar?" Tanya baginda

"Jika begitu, hamba mita waktu tiga hari untuk memikirkan jalan keluarnya wahai baginda." Kata Abu Nawas.

Baginda lalu memberi Abu Nawas waktu selama tiga hari. Sekembalinya Abu Nawas dari istana, ia mulai memutar otak mencari jalan keluarnya. Secara pribadi Abu Nawas sangat menginginkan saudagar kaya itu dipenjara karena saudagar tersebut memang terkenal akan pelitnya dan enggan membayar zakat dan banyak orang yang membencinya. Tetapi karena tugas itu merupakan perintah dari baginda, mau tidak mau Abu Nawas harus menemukan cara untuk menyadarkan saudagar tersebut.

Kini tibalah pada hari ketiga, pagi itu Abu Nawas yang memang sudah menemukan cara segera bergegas menuju istana untuk menyampaikan idenya pada baginda. Begitu menghadap, baginda langsung bertanya padanya,

"Bagaimana Abu Nawas? Apa kau sudah menemukan cara?" Tanya raja.

"Sudah Baginda, sudah ditemukan caranya. Cuma, baginda juga harus ikut dengan hamba untuk menjadi pengemis dan mengemis di rumah saudagar itu, nanti di sana hamba yang akan menyelesaikan masalah tersebut. Apakah Baginda bersedia?" Tanya Abu Nawas.

Awalnya baginda merasa ragu pada ajakan Abu Nawas, tapi demi menyadarkan saudagar itu, akhirnya baginda pun bersedia.

Dengan memakai pakaian layaknya pengemis, Abu Nawas dan Baginda Raja pergi meluncur ke rumahnya saudagar pelit itu. mereka terus mengawasi sampai saudagar tersebut ada di rumahnya. setelah beberapa saat menunggu, terlihatlah saudagar itu sedang duduk bersantai di beranda rumahnya.

Abu Nawas dan baginda segera saja menghampiri dan mengucapkan salam menyapa saudagar itu.

"Apakah Tuan mempunyai uang receh?" Tanya Abu Nawas.

"Tidak ada!" Jawab Tuan Kabul.

"Kalau begitu, apakah Tuan punya pecahan roti kering, sekedar untuk mengganjal perut kami?" Tanya Abu Nawas.

"Tidak ada!" Kata saudagar.

"Kalau begitu, bolehkah kami minta segelas air saja, adakah Tuan?" Tanya Abu Nawas kembali.

"Sudah aku bilang dari tadi aku tidak punya apa-apa!" Kata Saudagar yang mulai jengkel.

Abu Nawas pun langsung mengeluarkan olah kata ajaibnya,

"Kalau Tuan tidak punya apa-apa, mengapa Tuan tidak jadi pengemis seperti kami saja?" Kata Abu Nawas.

Wajah Tuan Kabul terlihat tidak karuan, antara maran, kesal, tersinggung, sedih bercampur aduk. Saudagar itu pun terdiam teringan akan masa lalunya yang terbilang miskin tapi ia rajin bersedekah. Tapi sekarang dengan kehidupan yang lebih baik, ia malah menjadi kikir. Seketika itu tuan saudagar itu meneteskan air mata menyadari sifat kikirnya selama ini. Baginda pun tiba-tiba berkata,

"Bagaimana, apakah memilih menjadi orang kaya atau orang yang miskin ?" Kata raja. Kalau mau kaya, rajinlah bersedekah dan bayarlah zakat, kalau tidak mau kaya, mengemis saja kayak orang ini." Kata raja sambil menunjuk ke Abu Nawas.

Abu Nawas lalu melanjutkan dengan membaca ayat-ayat Al Qur'an tentang orang yang kikir dan menolak membayar zakat. Dalam kesedihannya, tuan saudagar merasa sangat terkejut mengetahui jika salah seorang pengemis didepannya adalah baginda raja. Mulai saat itulah saudagar itu mulai berubah menjadi orang yang baik dan dermawan, dan pastinya ia rajin membayar zakat.

MENGENTUTI RAJA (kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari Baginda Raja Harun Al Rasyd memanggil  Abu Nawas menghadap ke istananya. Setelah Abu Nawas tiba di istana dengan tersenyum baginda raja menyambutnya dan kemudian berkata kepada Abu Nawas,

“Wahai Abu Nawas, Akhir-Akhir ini perutku sering sakit, tabibku mengatakan jika aku terkena gangguan angin.”

“Mohon Ampun baginda, apa yang sudikiranya yang dapat hamba bantu?”  Tanya Abu Nawas kepada baginda raja.

Baginda lalu menjawab,

“Aku menginginkan agar kamu dapat menangkap angin untuk dipenjarakan, karena ia telah telah berani menggangguku. Dan aku memberimu waktu selama 3 hari untuk membawa angin kehadapanku.”  Kata baginda kepada Abu Nawas.

Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan istana untuk melaksanakan titah baginda raja. Namun ia sangat kebingungan dan berpikir bagaimana bisa ia bisa menangkap angin untuk dipenjarakan, sedang angin merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata.  Kali ini sungguh aneh permintaaan baginda, tiada henti-hentinya menjebak dirinya. Nampaknya kali ini baginda akan berhasil mendapatkan celah untuk menghukum dirinya, pikir Abu Nawas. Tapi Abu Nawas tidak putus asa, ia terus berpikir mencari jalan keluar walaupun menangkap angin merupakan suatu pekerjaan mustahil. Karena ia bukanlah suatu benda yang dapat disentuh dan sama sekali tidak dapat dilihat meski keberadaannya ada dimana-mana.

Sudah 2 hari berjalan sejak perintah baginda, Abu Nawas belum juga berhasil menangkap angin maupun menemukan cara untuk menangkapnya. Hingga hari ke tiga ketika ia sedang berjalan-jalan dengan hati yang hampir berserah diri menerima hukuman baginda. Tiba-tiba ia teringat akan kisah Aladin dan Jinnya yang terkurung di dalam  lampu ajaib. Abu Nawas pun menemukan ide yang akan menyelamatkan dirinya dari hukuman baginda raja. ia sangat gembira segera berlari pulang kerumah mempersiapkan semua keperluan untuk menghadap sang baginda raja.

Setelah semuanya siap, Abu Nawas langsung menuju istana untuk menghadap. Di sana baginda raja telah menunggu ingin melihat hasil kerjanya. Baginda raja langsung bertanya kepada Abu Nawas,

“Wahai Abu Nawas, sudahkah engkau melaksanakan perintahku untuk menangkap dan memenjarakan angin?”

“Sudah baginda raja,”  jawab Abu Nawas.

“Coba perlihatkan, aku sangat ingin melihat hasil kerjamu,”  Kata baginda.

Abu Nawas kemudian menyerahkan sebuah botol kaca yang tertutup kepada baginda raja.

Setelah menerima botol tersebut, baginda kemudian bertanya pada Abu Nawas,

“Dimana angin itu, aku tidak melihat apa-apa di dalam sini?”

Berkata Abu Nawas,

“Ampun yang mulia baginda raja, angin tidaklah dapat dilihat dengan mata. Tetapi jika tuanku baginda ingin mengetahui keberadaannya maka bukalah penutup botol itu.”

Tanpa berpikir panjang, baginda raja langsung membuka penutup botol itu dan tiba-tiba ia mencium bau busuk yang keluar dari botol tersubut.

Dengan nada yang marah baginda bertanya kepada Abu Nawas,

“Hai Abu Nawas, bau apa yang keluar dari sini?”

Dengan nada ketakutan kemudian Abu Nawas menjawab,

“Mohon Ampun baginda raja, tadi hamba juga mengalami gangguaan angin pada perut hamba dan ketika ia hendak keluar maka hamba langsung memasukkannya ke dalam botol. Agar ia tidak melarikan diri maka hamba segera memenjarakannya dengan menyumbat mulut botol itu untuk menutupnya.”

Mendengar penjelasan Abu Nawas, baginda tidak jadi memarahi dan menghukumnya meski beliau telah diberi kentut oleh Abu Nawas, karena alasan yang diberikan cukup masuk akal untuk sebuah pekerjaan aneh. Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan istana dengan hati gembira karena ia lelah lolos dari jebakan dan hukuman baginda raja.

RAJA DITAMPAR (kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari, Abu Nawas singgah di rumah kenalan baru di tepi hutan dengan maksud memperkuat silaturrahmi. ia seorang Yahudi. sesampainya dirumah Yahudi tersebut, ternyata di sana tengah berlangsung permainan musik yang meriah. Banyak orang yang menonton sehingga suasana begitu meriah. Semua tamu yang hadir ikut larut dalam permainan musik indah itu, termasuk Abu Nawas yang baru saja masuk.

Ada yang bermain kecapi, ada yang menari-nari dan sebagainya, semuanya bersuka cita.

Ketika para tamu sudah lelah dan kehausan, tuan rumah menyuguhkan kopi kepada para hadirin. Masing-maisng mendapat secangkir kopi, termasuk Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas hendak meminum kopi itu, ia ditampar oleh si Yahudi, yahudi itu mengatakan agar lebih terlihat akrab karena Abu Nawas merupakan teman barunya. Namun karena sudah terlanjur larut dalam kegembiraan, Abu Nawas tidak terlalu menghiraukan. Abu Nawas kembali mengangkat cangkir kopinya untuk diteguk.  Namu tidak disangka ia kembali mendapat tamparan yang begitu keras dari pemilik rumah itu,dan begitu seterusnya. Pemilik rumah tersebut hanya tersenyum saja tanpa merasa bersalah sedikit pun. Begitu juga para tamu yang hadir bukannya kasihan, malahan menertawakan Abu Nawas. Dengan perasaan marah bercampur geram, Abu Nawas pun langsung pergi meninggalkan mereka tanpa berkata sepatah kata pun.

Abu Nawas terus berjalan menuju rumahnya, dalam hati ia bergumam,

"Jahat benar perangai Yahudi itu, main tampar seenaknya saja. Kelakuan seperti itu tidak boleh dibiarkan berlangsung di Baghdad. Aku harus mencari cara menghentikan Yahudi tersebut?" Gumamnya dalam hati.

"oh ya,,aku ada akal." Gumam Abu Nawas selanjutnya.

Keesokan harinya, Abu Nawas menghadap baginda raja di istana.

"Ampun baginda, hamba mendengar di negeri ini ada suatu permainan yang belum pernah hamba kenal, permainan itu sangat aneh!!" Lapor Abu Nawas.

"Di mana tempatnya?" Tanya baginda.

"Di tepi hutan sana Baginda." Kata Abu Nawas.

"Mari kita lihat." Ajak baginda.

"Nanti malam saja kita pergi baginda. kita  akan pergi berdua saja dengan pakaian biasa agar tidak ada yang mengenali baginda." Ucap Abu Nawas.

Pada malam hari, maka berangkatlah Baginda dan Abu Nawas ke rumah Yahudi itu.

Ketika sampai di sana, kebetulan si Yahudi sedang asyik bermain musik dengan teman-temannya, maka Baginda pun dipersilahkan duduk.

Ketika diminta untuk menari, Baginda menolak sehingga ia dipaksa dan ditampar pipinya kanan kiri.

Sampai di situ Baginda baru sadar bahwa ia telah dipermainkan oleh Abu Nawas.

Tapi apa daya ia tak mampu melawan orang sebanyak itu.

Maka, dengan terpaksa menarilah baginda sampai keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Setelah merasa sangat lelah dan kehausan barulah dibagikan kopi kepada semua tamu, dan melihat hal itu, Abu Nawas meminta izin untuk keluar ruangan dengan alasan akan pergi ke kamar mandi untuk kencing.

"Biar Baginda merasakan sendiri peristiwa itu, karena salahnya sendiri tidak pernah mengetahui keadaan rakyatnya dan hanya percaya kepada laporan para menteri." Pikir Abu Nawas dalam hati sembari meluncur pulang ke rumahnya.

Tatkala hendak mengankat cangkir kopi ke mulutnya, Baginda ditampar oleh si Yahudi itu. Ketika ia hendak mengangkat  cangkir kopinya lagi, ia pun terkena tamparan lagi begitu seterusnya hingga baginda merasakan sangat kesakitan dan mukanya menjadi lembam memerah, sementara tamu lainnya terus menertawainya.

Ia sadar jika Abu Nawas pasti sudah meninggalkannya, dan ia pun tahu jika itu adalah cara Abu Nawas menunjukkan kejahilan yang terjadi pada rakyatnya. Dan selalu saja Baginda yang dijadikan korban.

karena tidak sanggup lagi menerima tamparan dari Yahudi tersebut. Baginda pun langsung pergi tanpa berkata sepatah kata pun.

Pada keesokan harinya, setelah bangun tidur, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid memerintahkan seorang pengawal istana untuk memanggil Abu Nawas menghadap.

"Wahai Abu Nawas, baik sekali perbuatanmu semalam, engkau biarkan diriku disiksa dan dipermalukan seperti itu."Kata Baginda.

"Ampun beribu ampun wahai Baginda Raja, pada malam sebelumnya hamba telah mendapat perlakuan yang sama seperti itu. Apabila hal itu hamba laporkan secara jujur, pasti Baginda tidak akan percaya dan mengira itu adalah akal-akalan hamba saja. Dari itu, hamba bawa baginda ke sana agar mengetahui dengan kepala sendiri perilaku rakyat yang tidak senonoh itu." Jawab Abu Nawas membela diri.

Baginda tidak dapat membantah ucapan Abu Nawas, lalu disuruhnya beberapa pengawal untuk memanggil si Yahudi itu.

"Wahai Yahudi, apa sebabnya engkau menampar aku tadi malam?" Tanya Baginda marah.

"Wahai Tuanku, sesungguhnya hamba tidak tahu jika malam itu adalah Tuanku. Jika sekiranya hamba tahu, hamba tidak akan berbuat seperti itu." Jawab si Yahudi membela diri.

Apa daya, pembelaan Yahudi tidak disetujui oleh Baginda. Karena menampar orang termasuk perbuatan menyiksa dengan kejam dan Baginda harus mengambil tindakan tegas karenanya.

"Sekarang terimalah pembalasanku." Kata Baginda.

"Ampunilah hamba, Tuanku!! Ucap si Yahudi.

Segera saja Baginda memerintahkan para prajurit untuk memasukkan si Yahudi ke dalam penjara.

Sejak saat itu Raja Harun amat memperhatikan rakyatnya. Ia berterimakasih atas laporan yang diberikan oleh Abu Nawas tersebut, meski caranya selalu aneh dan membuat ia hampir celaka.

HADIAH TEBAKAN JITU (kisah Abu Nawas)

Pada suatu ketika Baginda Raja Harun Al Rasyid mengajukan dua pertanyaan kepada para menterinya, tapi tidak ada satu pun dari mereka dapat memberikan jawaban yang dapat memuaskan baginda. Sedang baginda raja sangat menginginkan jawaban yang tepat terhadap pertanyaannya.

Para penasehat kerajaan akhirnya menyarankan baginda raja menghadirkan Abu Nawas ke istana dan bertanya kepadanya. Baginda raja kemudian memerintahkan pesuruh istana untuk menjemput Abu Nawas. Ia pun tiba dan menghadap baginda.

Baginda bertanya kepada Abu Nawas:

“Wahai Abu Nawas, akhir-akhir ini aku susah tidur karena dibayang-bayangi oleh keingintahuanku menyingkap dua rahasia alam.”

“Mohon ampun baginda, apa sebenarnya keingintahuan baginda itu. Bolehkah baginda memberitahukannya kepada hamba?,” tanya Abu Nawas.

“Pertama, dimanakah sebenarnya letak batas jagat raya ciptaan Allah?” Baginda mulai mengutarakan pertanyaannya.

Abu Nawas menjawab,

“Di dalam pikiran, wahai baginda!!! Baginda yang mulia, sesungguhnya ketidakterbatasan itu ada karena keterbatasan. Dan keterbatasan itu ada di dalam pikiran manusia. Oleh sebab itu, kita tidak akan mengetahui dimana letak batas jagat raya ciptaan Allah, karena sesuatu dengan keterbatasan tidak dapat melampaui ketidakterbatasan.”

Mendengar penjelasan Abu Nawas baginda raja merasa puas dan kembali mengajukan pertanyaan kedua.

“Wahai Abu Nawas, manakah jumlahnya yang lebih banyak antara ikan-ikan di laut dengan bintang-bintang di langit?”Tanya baginda.

“Lebih banyak ikan-ikan di laut ya baginda,” jawab Abu Nawas.

“Apa alasannya engkau mengatakan begitu, wahai Abu Nawas?” Tanya Baginda kembali.

Abu Nawas kemudian menjawab,

“Mohon maaf baginda yang mulia, bukankah setiap hari kita menangkap ikan di laut bahkan dalam jumlah yang sangat besar, tapi ikan-ikan itu tetap saja tidak berkurang. Sedang bintang-bintang di langit juga berjumlah banyak, tapi kita tidak pernah melihatnya rontok dan tetap pada tempatnya.”

Maka dengan telah terjawabnya kedua pertanyaan baginda raja itu, hilanglah rasa penasarannya. Abu Nawas kemudian diberikan hadiah atas jasanya.

MENGERJAI GAJAH (kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari yang cerah ketika Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai, ia tiba-tiba menjumpai  ada kerumunan orang. Ia pun merasa penasaran dan kemudian bertanya kepada seseorang disana,

“ Sedang ada apa disana?”  Tanya Abu Nawas.

“Sedang ada pertunjukan seekor gajah ajaib.”  Jawab orang itu.

“Ajaib bagaimana maksudmu?”  Tanya Abu Nawas kembali.

 “Gajah itu mengerti bahasa manusia, dan ia tidak mau tunduk kepada orang lain kecuali pemiliknya.”  Jawab orang itu.

Abu Nawas semakin penasaran dan segera menuju ke kerumunan untuk menyaksikan pertunjukkan. Sesampai dikerumunan, ia melihat sang pemilik gajah ajaib dengan bangga menawarkan kepada penonton akan memberikan hadiah yang besar seandainya mereka dapat menundukkan gajah tersebut agar mau menurut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Satu persatu penonton mulai mencoba melakukan berbagai cara agar gajah itu mau menganggukkan kepalanya. Namun belum ada satupun yang berhasil menundukkan gajah ajaib itu. Keadaan tersebut semakin membuat Abu Nawas penasaran, dan iapun tertarik ingin menguji seberapa gigihnya gajah tersebut tunduk hanya pada pemiliknya sehingga ia tidak mau menuruti orang lain. Abu Nawas Kemudian maju mencoba menundukkan gajah itu. ia berbicara pada gajah tersebut,

“Tahukah engkau siapa diriku?” Gajah itu menggelengkan kepalanya.

“Apakah engkau takut kepada diriku?”  Gajah itu tetap menggelengkan kepalanya.

“Takutkah engkau kepada tuanmu?”  Gajah itu mulai ragu dan Abu Nawas kembali bertanya,

“Jika engkau tidak takut kepada tuanmu, maka aku akan melaporkan kepada tuanmu.”  Desak Abu Nawas.

Mendengar ancaman Abu Nawas dengan spontan kemudian gajah itu langsung menganggukkan kepalanya. Gajah tersebut tidak teringat akan perintah tuannya untuk tidak menurut kepada orang lain.

Penonton bersorak ria melihat keberhasilan Abu Nawas menundukkan gajah yang katanya ajaib itu dan dengan berat hati bercampur malu, pemilik gajah itu menyerahkan hadiah yang dijanjikan kepada Abu Nawas. Pemilik gajah sangat marah dan kemudian memukul gajah tersebut.

Pada beberapa hari berikutnya pemilik gajah kembali mengadakan pertunjukan dengan maksud membalas rasa malu sebelumnya. Tapi kali ini dengan gaya yang berbeda, dimana penantang harus mampu menundukkan gajah itu agar mau menganggukkan kepalanya. Satu persatu penonton mulai mencoba dengan berbagai cara termasuk cara yang digunakan Abu Nawas sebelumnya. tetapi gajah itu tetap tidak mau tunduk dan menggelengkan kepalanya, karena sangat takut pada ancaman tuannya.

Tibalah giliran Abu Nawas untuk maju dan kembali melemparkan pertanyaan kepada gajah tersebut.

“Tahukah engkau siapa diriku?” Tanya Abu Nawas.

 Gajah itu mengangguk.

“Takutkah engkau kepadaku?”

Gajah itu tetap mengangguk.

“Takutkah engkau kepada tuanmu?”.

 Gajah itu masih mengangguk.

“Tahukah engkau gunanya balsem ini?” Tanya Abu Nawas seraya mengeluarkan bungkusan kecil yang berisi balsem dari sakunya.

Namun gajah itu tetap mengangguk.

Abu Nawas kembali bertanya,

“Apa boleh balsem ini ku gosokkan pada selangkanganmu?”

Gajah itu mengangguk.

Abu Nawas kemudian menggosokkan balsem selangkangan gajah. Gajah tersebut merasa sangat kepanasan. Abu Nawas kemudian mengeluarkan lagi dari sakunya bungkusan balsem, kali ini lebih besar dan dia kembali bertanya kepada gajah tersebut,

“Apakah boleh aku menghabiskan balsem ini untuk kugosokkan pada selangkanganmu?”  Tanya Abu Nawas.

Gajah itu sangat ketakutan dan lupa akan ancaman tuannya, dengan spontan kemudian gajah itu langsung menggelengkan kepalanya.

Untuk kesekian kalinya Abu Nawas dapat menundukkan gajah itu dan kembali pulang dengan membawa hadiahnya.

MENGELABUI RAJA (kisah Abu Nawas)

Setelah pembalasan Abu Nawas membunuh lalat-lalat dengan memporak-porandakan barang-barang baginda raja atas izin tertulis dari beliau. Baginda raja sangat kesal dan karena kekesalannya itu beliau ingin sekali menjebloskan Abu Nawas ke penjara. tapi baginda tidak memiliki alasan untuk melakukannya, karena orang seperti Abu Nawas bukanlah orang yang gampang dicari-cari kesalahannya.

Suatu hari baginda raja menemukan akal untuk menjebak Abu Nawas. Baginda berpikir pasti kali ini akan berhasil menghukum Abu Nawas. Baginda raja merencanakan sebuah perburuan di hutan dan mengajak serta Abu Nawas. Mendengar ajakan baginda raja untuk berburu, hati Abu Nawas merasai gelisah, karena ia sangat takut pada beruang. Namun ia tidak berani menolak ajakan baginda raja yang akan menghukum orang yang melawan perintahnya.

Hari yang direncanakan telah tiba. Cuaca pada hari itu sangat cerah, baginda raja dan pengawal kerajaan beserta Abu Nawas di dalamnya segera berangkat menuju hutan menunggangi kuda, ketika masih dalam perjalanan, tiba-tiba cuaca menjadi mendung. Baginda raja kemudian memanggil Abu Nawas untuk menghadapnya.

Baginda raja berkata kepada Abu Nawas:

“Wahai Abu Nawas, tahukan engkau alasan aku memanggilmu?” Tanya baginda.

“Ampun baginda raja, hamba belum mengetauinya,”  Jawab Abu Nawas.

Baginda raja kemudian kembali menyambung perkataannya,

“Cuaca tiba-tiba mendung, mungkin akan segera turun hujan dan hutan masih amat jauh, sedang kita harus berkumpul di tempat peristirahatan pada waktu makan siang. Engkau akan kuberi seekor kuda yang lamban, aku dan para pengawalku akan menunggang kuda yang cepat. Tapi bila hujan turun kita harus bisa menghindari agar pakaian kita tidak basah, kita harus melakukan dengan cara kita sendiri, sekarang mari kita berpencar.”  Titah raja kepada Abu Nawas.

Abu Nawas pun segera menunggangi kuda yang lamban dan ia tertinggal di belakang. Abu Nawas merasa kecewa, namun ia sudah menyadari jika baginda raja ingin menjebaknya dengan mencari-cari kesalahannya. Sebab jika ia tidak bisa melaksanakan titah baginda maka ia akan mendapatkan hukuman, mungkin ia akan dijebloskan kepenjara, karena itulah alasan baginda raja mengajaknya. mungkin untuk pembalasan atas penghancuran barang-barang baginda yang ia lakukan pikirnya.

Hujan tiba-tiba turun, baginda raja dan pengawalnya segera memacu kuda mereka yang cepat menuju tempat berteduh sementara. Namun  hujan yang begitu lebat tidak bisa dihindari, mereka sudah lebih dulu basah kuyup sebelum tiba di tempat berteduh. Akhirnya ketika waktu makan siang tiba, berangkatlah baginda raja dan pengawalnya untuk makan siang menuju tempat peristirahatan mereka dengan pakaian yang  masih basah. Akan tetapi belum lama mereka sampai di sana menyusullah Abu Nawas dengan kuda lambannya. Baginda raja dan pengawalnya dibuat bingung melihat Abu Nawas yang menyusul begitu cepat dan dengan pakaian yang masih kering. Mereka heran atas hal yang mereka anggap mustahil, tapi bisa dilakukan Abu Nawas.

Pada hari berikutnya baginda raja memberikan Abu Nawas seekor kuda yang cepat larinya, sedang beliau beserta pengawalnya menunggangi kuda yang lamban. Setelah mereka berpencar, cuaca pun tiba-tiba menjadi mendung dan hujan segera turun. Baginda raja dan pengawalnya basah kuyup tidak bisa menghindari hujan karena kuda tunggangan mereka sangat lamban. Abu Nawas segera memacu kudanya cepatnya menuju tempat peristirahatan dan ia lebih dulu sampai di sana dari rombongan baginda raja. Ketika baginda dan pengawalnya tiba dengan pakaian yang masih basah, mereka pun semakin bingung dan penasaran melihat Abu Nawas yang masih kering bajunya.

Baginda raja yang sudah sangat penasaran langsung bertanya kepada Abu Nawas:

“Wahai Abu Nawas, Aku sangat penasaran bagaimana kamu bisa menghindari hujan, sebab meski kita terpencar ketika hujan datang kita masih sama-sama dalam perjalanan dan engkau sama sekali tidak basah, begitui juga ketika kami menunggangi kuda yang cepat, akan tetapi kami tetap tidak bisa mencapai tempat berteduh, apalagi dengan tunggangan yang lamban ini tentu saja akan membuat kami kebasahan.”

Abu Nawas tersenyum mendengar pertanyaan baginda yang sudah sangat penasaran padanya, ia lalu menjawab:

“Mudah sekali baginda raja, Hamba sebenarnya tidak menghindar dari hujan. Tapi ketika hujan datang hamba cepat-cepat membuka pakaian dan melipatnya, kemudian hamba langsung mendudukinya sehingga pakaian hamba tetap kering. Dan ketika hujan berhenti hamba kemudian memakainya lagi.”

MENOLAK JADI QADHI (Kisah Abu Nawas)

Pada suatu hari ayah Abu Nawas bernama Maulana yang sudah tua dan sakit parah dan akhirnya meninggal dunia di istana, ayah Abu Nawas adalah seorang kadi kerajaan yang juga menghambakan diri pada Baginda Raja  Harun Al Rasyid .

Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah baginda untuk mengubur jenazah ayahnya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata cara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, melihat itu, maka baginda pun bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi pengganti ayahnya sebagai kadi kerajaan.

Kabar tentang akan dipilihnya sebagai kadi mengantikan ayahnya pun sampai ketelinga Abu Nawas. setibanya dirumah setelah selesai dari upacara pemakaman ayahnya, Abu Nawas pun tiba-tiba mulai bertingkah aneh tidak seperti biasanya. Abu  Nawas mengambil sepotong batang pisang dan mulai menunggangi pohon tersebut layaknya kuda sambil berlari lari, berteriak-teriak.

Melihat tingkah aneh Abu Nawas, orang-orang pun merasa sangat heran dan banyak diantara mereka menyangka jika Abu Nawas sudah gila.

Pada hari berikutnya, Abu Nawas mengajak anak-anak kecil beramai-ramai menuju makam ayahnya dengan membawa segala macam alat-alat permainan. Sesampai di makam tersebut ia kemudian mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita di atas kuburan ayahnya. Semua orang pun semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap jika Abu Nawas sudah benar-benar menjadi gila karena kematian ayahnya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Baginda Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas, alangkah terkejutnya mereka melihat tingkah Abu Nawas yang sudah berubah, salah satu dari mereka pun berkata menyampaikan perintah baginda,

"Hai Abu Nawas kami diutus untuk membawa mu untuk menghadap ke istana,"  kata utusan baginda.

"Buat apa baginda memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya,"  jawab Abu Nawas dengan enteng.

"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu," kata utusan.

"Hai tuan utusan, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar."Kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Para utusan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh Abu Nawas.

"Abu Nawas, kau mau apa tidak menghadap baginda?"  Kata utusan.

"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau."  Kata Abu Nawas.

"Apa maksudnya Abu Nawas?"  Tanya utusan penasaran.

"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu,"  sergah Abu Nawas sembari menyaruk pasir debu dan melemparnya ke arah para utusan. Mereka pun segera pergi  meninggalkan Abu Nawas dan melaporkan kejadiannya pada baginda raja. Baginda begitu marah mendengar laporan utusan,

"Kalian bodoh semua, menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak bisa! Cepat kembali ke rumah Abu Nawas, bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa." Perintah baginda.

Para utusan pun kembali kerumah Abu Nawas dengan mengajak beberapa prajurit istana. Mereka kemudian membawa Abu Nawas dengan paksa dan dihadapkan pada baginda.

Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas bertingkah aneh bahkan tambah ugal-ugalan, layaknya seorang yang benar-benar sudah gila.

"Abu Nawas bersikaplah sopan!"  Tegur Baginda.

"Ya Baginda, Baginda tahukah Anda....?"

"Apa Abu Nawas...?" Tanya baginda.

"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"

"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !" Kata baginda marah.

"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"

Baginda merasa dilecehkan, ia pun naik pitam dan segera memerintah kepada para pengawalnya untuk memukul Abu Nawas sebanyak 25 kali.

Abu Nawas akhirnya lemas tak berdaya dipukuli pengawal raja. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar dari istana.

Abu Nawas pun segera beranjak keluar istana, tetapi ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh seorang penjaga.

"Hai Abu Nawas! Tempo hari dulu ketika kau hendak masuk ke kota ini kita pernah membuat perjanjian. Aku yakin engkau tidak lupa dengan janji mu bahwasanya jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berjanji akan membagi dua dengan ku. Nah, sekarang mana bagianku itu?" Tanya penjaga pintu gerbang.

"Hai penjaga, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah  yang diberikan baginda kepadaku tadi?"

"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?" Jawab penjaga.

"Baik, aku akan berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!" Kata Abu Nawas.

"Ternyata kau sangat baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, engkau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda." Kata penjaga itu gembira.

Tanpa banyak bicara lagi Abu Nawas langsung mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu penjaga itu dipukulinya sebanyak 25 kali. Penjaga itu menjerit-jerit kesakitan sampai lemah lunglai dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila. Setelah selesai  Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada baginda raja.

"Ampun beribu ampun tuanku. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul  hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda." Kata penjaga itu.

Baginda pun segera memerintahkan pengawal untuk membawa Abu Nawas. Setelah Abu Nawas dihadapkan ia ditanya,

"Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penjaga gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?" Tanya baginda.

Dalam keadaan masih berpura-pura gila, Abu Nawas menjawab,

"Baginda, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu." 

"Apa maksudmu? Coba engkau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?" Tanya baginda.

"Hamba dan penjaga pintu gerbang ini telah membuat perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk hamba. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka hamba berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."Jawab Abu Nawas sambil tertawa-tawa bak orang gila.

"Hai penjaga pintu gerbang, benarkah engkau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?"Tanya baginda.

"Benar Tuanku," jawab penunggu pintu gerbang.

"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan padanya." Tambah penjaga itu.

"Hahahahaha.....Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!" Sahut Baginda.

"Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa engkau adalah orang yang suka memeras orang! jika perilakumu masih begitu, maka aku akan memecat dan menghukummu.!" Kata baginda.

"Ampun Tuanku," sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.

Abu Nawas kemudian berkata,

"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba dibawa paksa kesini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan baginda. Padahal besok hamba harus mencari nafkah."

Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak,

"Hahahaha...Jangan kuatir Abu Nawas." Kata baginda.

Baginda kemudian memberikan sekantong dinar kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira tapi tetap bertingkah seperti orang gila.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya mengenai Abu Nawas yang rencananya akan diangkat menjadi kadi kerajaan.

"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?" Tanya baginda.

Salah satu menteri berkata,

"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin aneh tingkahnya, maka sebaiknya  tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."

berkata menteri lain,

"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."

Semua menteri memberikan pendapat yang sama.

"Baiklah, kita tunggu dulu sampai 21 lagi, karena sekarang bapaknya baru saja meninggal dunia. Jika selama 21 hari lagi tidak sembuh-sembuh juga barulah kita akan memilih orang lain saja." Kata baginda.

Sebulan lebih waktu berjalan, namun Abu Nawas masih bertingkah gila, maka baginda pun mengangkat orang lain menjadi kadi kerajaan. Konon kadi yang dipilih seseorang bernama Polan, tidak lain memang merupakan orang yang sangat berambisi untuk menjadi kadi. Karena Abu Nawas tidak jadi diangkat, si Polan pun mempengaruhi orang-orang di sekitar baginda untuk memilih dan mengangkatnya menjadi kadi.

Begitu mendengar jika kadi baru sudah diangkat, Abu Nawas pun kembali bersikap normal. Ia sangat bersyukur karena terlepas dari bala yang mengerikan. Akan tetapi ia sedikit menyesali karena ia mengatahui bahwa kadi yang dipilih memiliki perangai buruk.

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila?

Ceritanya pada suatu hari ketika ayahnya Abu Nawas yang sudah tua dan mulai sakit parah, Abu Nawas dipanggil untuk menemui ayahnya tersebut, karena ayahnya ingi menyampaikan beberapa pesan padanya sebulum meninggal dunia.

Berkata ayahnyanya,

"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang cobalah engkau cium telinga kanan dan telinga kiriku ini."

Abu Nawas segera menuruti permintaan ayahnya. la mencium telinga kanan bapaknya, ternyata mengeluarkan bau harum,  sedangkan yang sebelah kiri mengeluarkan bau  busuk.

"Bagamaina anakku? Sudah kau cium? Ceritakankan dengan sejujurnya, bau kedua telingaku ini." kata ayahnya.

"Sungguh mengherankan, yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri baunya amat busuk?" Kata Abu Nawas heran.

"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?" tanya ayahnya.

"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepadaku." Kata Abu Nawas.

Ayahnya kemudian berkata,

"Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tidak suka maka tidak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi kadi (penghulu). Jia kelak kau suka menjadi kadi maka kau akan mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar engkau tidak dipilih sebagai kadi oleh Baginda Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak baginda pastilah akan tetap memilihmu sebagai Kadi." Jelas ayah Abu Nawas.

Dari pesan ayahnya itulah Abu Nawas sudah mempersiapkan rencana yang matang, jika nanti ayahnya telah tiada. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi  kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun  Abu Nawas tidak menjadi kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh baginda raja untuk memutus suatu perkara.  Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaanbaginda raja yang  aneh-aneh dan tidak masuk akal.

MEMBALAS TUAN QADHI (Kisah Abu Nawas)

Sore hari ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, datang dua orang tamu.Sseorang laki-laki muda dengan seorang wanita tua. Mereka menemui Abu Nawas, wanita tua itu berkata kepada Abu Nawas jika ia membawa seorang pemuda Mesir kepadanya. Pemuda tersebut sebelumnya seorang yang kaya dan datang ke Bagdad untuk berdagang. Akan tetapi ia sekarang jatuh miskin, semua hartanya dirampas paksa oleh seorang kadi.

Abu Nawas bertanya pada pemuda tersebut,

“Ceritakanlah kepadaku mengapa tuan kadi merampas seluruh hartamu.”

Pemuda Mesir itu kemudian menceritakan semua masalah yang menimpanya kepada Abu Nawas. Setelah mendengar dan memahami apa yang diceritakan oleh pemuda Mesir itu, pemuda dan wanita tua tersebut meninggalkan Abu Nawas.

 Abu Nawas kemudian memerintahkan semua muridnya untuk berhenti belajar dan pulang ke rumah seraya berkata,

“Wahai muridku, pulanglah kalian semua dan kembalilah di malam hari. Ajak semua teman-temanmu dan bawalah semua peralatan yang ada di rumahmu, seperti cangkul, kayu, palu, batu dan apapun yang bisa kamu bawa.”

Murid-murid Abu Nawas kemudian pulang dengan keheranan. Namun mereka yakin bahwa guru mereka tidak pernah memerintahkan mereka sesuatu yang bukan pada kebenaran.

Malam pun tiba. murid-murid Abu Nawas telah berkumpul di rumahnya dengan segala peralatan yang mereka bawa. Lalu berkatalah Abu Nawas kepada murid-muridnya,

“Wahai murid-muridku, pergilah kalian ke rumah tuan kadi kemudian rusaklah rumahnya dengan peralatan kalian bawa hingga menjadi rata dengan tanah.”

Mendengar perkataan gurunya, para murid Abu Nawas mulai bergumam sesamanya. Abu Nawas kemudian memecah kebingungan mereka,

“Janganlah kalian takut, laksanakan apa yang kuperintahkan sebagai gurumu”, kata Abu Nawas kepada muridnya“, jika ada orang yang menghalangimu, katakan saja aku yang menyuruh dan jika ada yang melukai kalian, maka lawanlah mereka.”

Murid Abu Nawas langung menuju ke rumah tuan kadi, orang-orang sekitar merasa resah melihat kelakuan mereka. Namun tidak ada seorangpun yang berani menghentikan karena mereka terlalu banyak dan membawa senjata ditangannya.

Sesampainya di rumah tuan kadi, tanpa bertanya mereka langsung melaksanakan perintah gurunya menghancurkan rumah tuan kadi. Melihat banyak orang yang datang merusak rumahnya, Tuan kadi langsung keluar dan bertanya kepada salah seorang dari mereka,

“Siapa yang menyuruh kalian menghancurkan rumahku?”  Bentak tuan kadi.

 “Guru kami, Abu Nawas,” jawab salah seorang dari mereka.

Mendengar jawaban mereka, tuan kadi sangat marah dan menyebut guru mereka adalah seorang provokator. Murid Abu Nawas kemudian kembali melanjutkan tugasnya memporak-porandakan hingga rumah tuan kadi rata dengan tanah.

Besoknya, tuan kadi melaporkan perbuatan murid Abu Nawas kepada baginda raja. Abu Nawas kemudian dihadirkan di istana untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap tuan kadi.

Baginda raja bertanya kepada Abu Nawas,

“Kenapa engkau menyuruh para muridmu merusak rumah tuan kadi?”

“Mohon ampun baginda, sesungguhnya perintah hamba kepada para murid hamba bukanlah tanpa alasan. Sesungguhnya alasan hamba ialah pada suatu malam hamba bermimpi bertemu tuan kadi, ia mengatakan kepada hamba jika rumahnya tidak cocok dengannya dan membuatnya tidak nyaman, kemudian ia meminta tolong kepada hamba supaya mengajak murid-murid hamba untuk menghancurkan rumah tersebut.” Jelas Abu Nawas kepada baginda.

“Apakah hanya karena sebuah mimpi engkau bisa jadikan itu pembenaran?, dari mana engkau mengambil hukum itu?”  Tanya baginda.

“Dari tuan kadi, yang mulia.”  Jawab Abu Nawas.

Mendengar Abu Nawas berkata seperti itu, dalam sekejap tuan kadi terdiam dan menjadi pucat wajahnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi. Ceritakanlah kepadaku?”  Tanya baginda semakin keheranan.

Abu Nawas kemudian menjelaskan secara rinci,

“Baginda yang mulia, pada suatu hari ada seorang pemuda Mesir kaya yang berdagang di negeri ini. Ia kemudian mendadak jatuh miskin karena hartanya telah dirampas secara paksa oleh tuan kadi ini, dan itu hanya karena sebuah mimpi yang dialami tuan kadi. Tuan kadi bermimpi jika pemuda itu menikahi anaknya dan menyerahkan seluruh hartanya sebagai mahar. Esoknya tuan kadi menemui pemuda tersebut dan meminta semua hartanya diserahkan ke tuan kadi sesuai mimpinya. Tentu saja pemuda itu tidak mau menyerahkannya karena itu hanya sebuah mimpi dan tidak bisa diambil pembenarannya. Namun tuan kadi tetap memaksa dan merampas semua harta pemuda itu hingga dia menjadi seorang gelandangan dan ditolong oleh seorang wanita tua.”  Jelas Abu Nawas.

Untuk meyakinkan baginda raja, Abu Nawas kemudian memanggil pemuda Mesir tersebut dan beberapa saksi yang memang sudah dibawanya ke istana. Baginda raja kemudian meminta pemuda tersebut menjelaskan semua masalahnya, pemuda itu kemudian menuturkan semuanya sebagaimana yang telah dijelaskan Abu Nawas. Baginda Marah besar karena telah mengangkat seorang kadi yang tidaki berakhlak. Beliau kemudian memecat kadi itu serta menyita seluruh hartanya untuk diserahkan kepada pemuda Mesir tersebut.

Pemuda Mesir itu amat berterimakasih kepada Abu Nawas dan hendak memberikannya imbalan atas bantuan kepadanya. Namun Abu Nawas menolak karena bantuanya berdasarkan keikhlasan hati membantu sesama.

DIUSIR NEGERI ORANG (Kisah Abu Nawas)

Abu Nawas dikenal sebagai seorang sufi. Yang berasal dari Persia lahir pada 750 M di kota Ahvad dan meninggal pada tahun 819 M di Negeri Bagdad. Ketika beranjak dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Selama di sana ia bergaul dengan orang-orang badui padang pasir sehingga lama kelamaan ia menjadi lancar berbahasa Arab dan dapat mengikuti kebiasaan orang-orang Arab layaknya seorang pribumi, setelah tinggal lama bersama orang-orang badui, Abu Nawas dan keluarga kemudian menetap di Bagdad hingga ia meninggal di sana.

Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan sebagai salah seorang penyair klasik terbesar sastra Arab. Salah satu yang diyakini sebagai syairnya yang sangat terkenal dan sering kita dengarkan adalah: “Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi.....dst.” Artinya: “Ya Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat masuk neraka jahim...dst.”

Menurut cerita, syair di atas merupakan ungkapan tobatnya kepada Allah SWT, karena ketika masa mudanya banyak yang menyebutkan jika Abu Nawas banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan kehidupan duniawi dan banyak melakukan hal-hal yang di luar pikiran dengan perilaku jenakanya. Ketika berpindah ke Bagdad, Abu Nawas dikenal dekat dengan khalifah Harun Al Rasyid, sehingga banyak cerita jenaka Abu Nawas yang berhubungan dengan Raja Harun Al Rasyid.

Kisah-kisah asli Abu Nawas berasal dari sebuah buku dongeng Alfu Lailatin Wa Lailah (Kisah Seribu Satu Malam). Dari kisah asli tersebut lahir kisah-kisah baru dengan cerita yang berbeda-beda pula, baik secara tertulis maupun yang pernah diceritakan secara lisan. 

Alkisah, pada suatu malam dalam tidurnya Baginda Raja Harun Al Rasyd bermimpi bertemu seorang lelaki tua, dalam mimpinya laki-laki itu tua berpesan kepadanya jika negeri yang dipimpinnya akan ditimpa musibah. Oleh sebab itu, agar dapat menghindari bencana itu ia harus mengusir seorang penduduk negerinya yang bernama Abu Nawas. Esoknya setelah ia terbangun baginda raja mulai gelisah hatinya mengingat mimpi yang dialami semalam, ia kemudian memerintahkan kepada pesuruhnya untuk menghadirkan Abu Nawas ke istana.

Tatkala Abu Nawas telah berada di istana, baginda kemudian berkata kepada Abu Nawas:

“Hai Abu Nawas, semalam aku bermimpi yang sangat aneh dan aku merasakan jika mimpi itu adalah suatu pertanda buruk bagi negeriku. Dalam mimpiku aku bertemu seorang laki-laki tua yang memakai pakaian serba putih. Ia mengatakan kepadaku jika negeri ini akan ditimpa bencana yang sangat besar . Agar itu tidak terjadi, ia berpesan agar aku mengusir seorang rakyatku dari negeri ini yang bernama Abu Nawas, dan ia juga mengatakan jika Abu Nawas itu ingin kembali  maka hendaklah dia tidak berpijak di atas bumi atau mengendarai tunggangan apapun, tapi jika ia tidak bisa melakukan seperti itu maka ia tidak boleh lagi kembali ke negeri ini. Oleh sebab mimpi itu maka aku yakin ada sebuah kesialan atas dirimu. Maka aku memutuskan untuk mengusirmu dari negeri ini,” kata baginda.

Dengan perasaan yang berkecamuk setelah mendengarkan perintah baginda raja atas pengusiran dirinya, Abu Nawas kemudian meninggalkan istana dan kembali ke rumah. Ia menceritakan kepada istrinya tentang apa yang telah dititahkan raja kepadanya, Istrinya merasa sangat sedih. Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan keluarganya dengan bekal yang dibawa seadanya. Ketika dalam perjalanan ia terus memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk, iapun terus memutar otaknya agar dapat keluar dari masalah itu.

Abu Nawas terus berjalan tanpa tujuan yang pasti hingga ia berada disebuah negeri. Selama beberapa hari disana ia terus berpikir bagaimana cara ia kembali ke Negeri Bagdad tanpa melanggar apa yang telah dipesankan raja kepadanya, yaitu tidak boleh menginjak bumi dan tidak pula mengendarai tunggangan apapun.

Bukan Abu Nawas namanya jika ia memiliki keputus asaan. Abu Nawas tidak berputus asa atas apa yang telah menimpanya. Meskipun alasan yang membuat ia diusir sama sekali tidak masuk akal, ia menerimanya dengan ikhlas, selalu berdoa kepada Allah dan berpikir untuk bisa keluar dari setiap masalah yang menimpanya.

Tibalah pada suatu hari ia merasa rindu berat kepada keluarganya di Negeri Bagdad. Namun ia belum menemukan cara untuk kembali, hingga pada suatu hari lain tiba-tiba dia menemukan sebuah cara yang sangat masuk akal dan tidak membuatnya melanggar perintah raja.  Setelah ia menemukan cara tersebut, Abu Nawas segera mempersiapkan segala sesuatu dan bersiap-siap untuk kembali ke kampung halamannya.

Kabar kembalinya Abu Nawas mulai tersebar dalam negeri hingga ke telinga baginda. rakyat menyambut gembira kepulangan Abu Nawas karena kecintaan akan dirinya,  Baginda raja juga ikut senang, tapi dalam suasana yang berbeda. Jika rakyat senang karena mereka menyukai Abu Nawas, baginda raja senang karena kali ini ia dapat leluasa memberi hukuman kepada Abu Nawas, baginda  berpikir pasti mustahil Abu Nawas dapat kembali tanpa berpijak pada bumi atau menunggangi sesuatu.

Tibalah Abu Nawas di istana dan menghadap baginda raja. Kehadirannya di istana membuat baginda raja sangat kaget ketika melihat Abu Nawas bergelantungan mengikat dirinya di bawah seekor keledai, dan kemudian Abu Nawas berkata kepada baginda raja,

“Wahai Baginda Raja bukankah engkau telah mengusirku dari negeri ini, dan melarangku kembali dengan berjalan memijak bumi dan tidak pula boleh menunggang apapun. Maka oleh sebab itu aku telah kembali dengan tidak memijak pada bumi dan tidak pula menunggung apapun, kecuali aku bergelantungan di bawah perut keledai.”

Melihat tingkah polah dan alasan yang diberikan Abu Nawas, Baginda raja pun merasa masuk akal dan sangat memuaskan beliau. Akhirnya Abu Nawas bisa kembali ke keluarganya dan terbebas dari hukuman baginda raja.